Kamis, 07 Maret 2013

Psikologi Pendidikan Kristen (Sentot Sadono)



                                     1
PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Kompetensi Dasar

Menguasai Pengertian psikologi pendidikan, sejarah, cakupan serta motodenya.

Indikator


a.    Menjelaskan pengertian psikologi pendidikan
b.    Menguraikan sejarah perkembangan psikologi pendidikan
c.     Menjelaskan ruang lingkup psikologi pendidikan
d.    Menjelaskan metode yang digunakan dalam pengembangan psikologi pendidikan dan penerapannya



Ringkasan
Pendahuluan
Pendidikan adalah dasar bangunan sebuah negara. Negara yang besar adalah negara yang memperhatikan dan membangun pendidikannya dengan segenap kekuatan dan sumber daya yang ada.   Bercermin dari kiprah pendidikan nasional di bangasa ini, banyak hal yang bisa dijadikan otokritik terhadap pelaksanaan pendidikan di bangsa ini.
Dalam ranah ilmu psikologi, arah pendidikan seharusnya dibangun pada dasar pemahaman yang benar tentang jatidiri manusia. Pendidikan semaksinal mungkin dibangun menjadi instrumen humanisasi dan sistem yang dijalankan adalah sistem yang akan menghasilkan individu yang tidak terasing dari diri dan dunianya.
Karena itu, pendidikan selayaknya dibangun dalam konsep manusia sebagai homo potens yaitu manusia yang sejak lahir membawa potensi dan bakat dalam dirinya. Pendidikan harus bersifat membela kebutuhan dan pembangunan kemandirian manusia, membangun keberpihakan kepada jatidiri manusia. Model pendidikan ini, manusia dipandang sebagai subjek yang otonom sehingga pendidikan harus berpusat pada peserta didik dan bukan pada pendidik.
Dalam konteks Indonesia, hal yang paling mendesak untuk diimplementasikan adalah membuka ruang berpikir yang lebih konstruktif dalam menanggapi pola pendidikan yang dikerjakan atas bangsa ini yang cenderung bahkan sudah terbukti melanggar keberadaan manusia sebagai homo potens. Pendidikan harus menjawab bahwa “selain sebagai makhluk spesifik yang dilengkapi dengan kemampuan-kemampuan biologis dalam kehidupannya manusia tidak hanya sepenuhnya diprogram oleh kemampuan biologisnya.
Pendidikan sedapat mu'ngkin harus diperjuangkan dan didasarkan pada pemberdayaan manusia pada keunikannya dan dalam persatuannya dengan diri dan lingkungannya. Pendidikan harus menjawab manusia akan perbuatannya, baik itu menyangkut keputusan bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain atau masyarakat. Maka dari itu, pendidikan yang dinyatakan akan mampu menjawab kebutuhan manusia seutuhnya adalah pendidikan yang siap terbuka bersinenergi dengan ilmu-ilmu lain khususnya ilmu psikologi.
Penerapan ilmu psikologi dalam dunia pendidikan sesungguhnya bukanlah hal yang baru dikerjakan.   Ilmu psikologi dan ilmu pendidikan bagaikan koin atau uang logam yang masing-masing sisinya memberi kontribusi nilai yang sama dan sama-sama menjadikannya bermakna. Permasalahan pendidikan yang tidak pernah ada habisnya telah membuat para ahli pendidikan senantiasa mengupayakan sebuah bangunan pendidikan yang lebih baik, yang tidak manusia dari kehidupannya yana adalah seutuhnya sebagai sasaran pendidiKan.   
Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud untuk membantu peserta didik (sebagai manusia utuh) untuk mengembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Pemahaman pendidik terhadap hakikat manusia akan membentuk peta tentang karakteristik manusia yang akan rnenjadi landasan dan acuan baginya dalam bersikap, menyusuh strategi, metode dan teknik, serta memilih pendekatan dan orientasi dalam merancang dan melaksanakan komunikasi transaksional di dalam interaksi edukatif'

Alasan Kita Membutuhkan Psikologi
Edward L. Thorndike (1910) berkata:

a.       Psikologi memberikan kontribusi untuk membangun pemahaman yang lebih baik tentang tujuan pendidikan, yaitu dengan mendefinisikan tujuan pendidikan tersebut membuat tujuan semakin lebih jelas; yakni dengan membuat pembatasan tujuan tersebut menunjukan kepada kita apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak bisa: dan dengan mempertimbangkan hal-hal baru yang harus dibuat menjadi bagian dan tujuan tersebuL
b.      Psikologi membuat ide-ide dan tujuan pendidikan yang iebih jelas.
c.       Psikologi membantu menempatkan pemahaman yang benar tentang tujuan pendidikan yang seharusnya ke dalam perubahan yang tepat yang dibuat dalam pendidikan. dengan menggambarkan perubahan-penjbahan apa yang sebenarnya terjadi pada manusia.
d.      Psikologi membantu untuk mengukur kemungkinan-kemungkinan untuk mencapai tujuan pendidikan.
e.       Psikologi memperJuas dan memumikan tujuan pendidikan.
f.        Psikologi adalan kontributor utama untuk pemahaman materi pendidikan
g.       Psikologi bersinergi dengan ilmu tentang anatomi, fisiologi, sosiologi, antropologi, sejarah dan ilmu-itmu lainnya yang menyangkut perubahan tubuh manusia atau sifat mental.
h.      Psikologi adalah sebuah ilmu yang lengkap yang akan memberitahukan takta-takta tentang kecerdasan seseorang, karakter dan perilaku; psikologi memberitahukan penyebab setiap perubahan daiam sifat manusia, nasi dari setiap gaya pendidikan-setiap tindakan yang mengubah setiap orang lain atau bagi diri sendiri.
i.         Psikologi memberikan kontrtousi daiam hal membangun
pemahaman
yang benar tentang sarana pendidikan.
j.                 Psikologi menyumbang pengetahuan tentang metode mengajar tig cara cara. Pertama, metode bisa disimpulkan langsung dari hukum alam manusia. Kedua. metode dapat dipilih dari pengalaman kerja yang sebenarnya terlepas dari  psikologi, sebagai titik awal. Keitga, dalam semua kasus nsikoloqi dengan metode pengukuran pengetahuan dan keterampilan, atau mungkin dengan cara menguji dan memastikan atau membantah klaim metode apapun

Definisi Psikologi Pendidikan
Sebagaimana istilah-istilah ilmiah dan kefilsafatan, istilah psikologi juga diperoleh dari Yunani yaitu psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti iimu. Jadi secara harfiah psikologi berari. ilmu jiwa, atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejaal kejiwaan. Untuk rentang waktu yang relatif lama terutama ketika psikologi masih merupakan bagian atau cabang dari filsafat. Pada masa lampau, Paul Musen dan Mark R. Rosenzwieg dalam buku mereka, Psycology: An Introduction, psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari mind (pikiran) namun dalam perkembangannya berubah menjadi behavior (tingkah laku), sehingga psikologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia.
Para ahli psikologi modern belakangan ini tidak lagi mengartikan psikologi sebagai ilmu yang mempelajari gejala-gejala kejiwaan. Menurut Thomas Alva Edison (1847-1931) berujar, "My mind is incapable of conceiving such a thing as a soul" (pikiran saya tidak mampu untuk mamahami hal seperti jiwa). Pada asasnya, psikologi menyentuh banyak bidang kehidupan diri organisme manusia. Dalam hal ini psikologi didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang yang berusaha memahami perilaku manusia, alasan, dan cara mereka melakukan sesuatu dan juga memahami bagaimana makhluk tersebut berfikir dan berperasaan (Gleitman,
"Lawrence Cremin mendefinisikan pendidikan sebagai usah; sengaja, sistematis dan terus menerus untuk menyampaikan menimbulkan dan memperoleh pengetahuan, sikap-sikap, nilai-nilas. keahlian-keahlian, atau kepekaan-kepekaan, juga setiap akibat dar; usaha itu".
Dengan demikian maka psikologi pendidikan berarti pendekatan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan keberadaan peserta didik sebagai pribadi unik dan dengan segala potensi alamiah yang mendasarinya.
Meruiuk pada pengertian psikologi pendidikan, pada dasamya psikologi pendidikan mempertegas arah pendidikan yang dibangun dalam proses pendidikan secara umum. Maka dari itu, psikologi pendidikan dapat didefinisikan sebagai kajian ilmu yang mempelajari seluruh tingkah laku manusia yang terlibat dalam proses pendidikan. Santrock menegaskan bahwa, psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Manusia yang terlibat dalam proses pendidikan ini ialah guru dan siswa, maka objek yang dibahas dalam psikologi pendidikan adalah tingkah laku siswa yang berkaitan dengan proses belajar dan tingkah laku guru yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Sehingga objek utama yang dibahas dalam psikologi pendidikan adalah masalah belajar dan pembelajaran.



Tanggapan

Berdasarkan ringkasan terhadap bagian 1 tentang ruang lingkup psikologi pendidikan bahwa pendidikan harus berorientasi pada “pemanusiaan manusia” secara utuh sebagai homo potens. Dalam proses tersebut dan dalam pengaplikasian ilmu pendidikan, ilmu pendidikan membutuhkan ilmu psikologi sehingga pendidikan dapat terdefinisi dengan baik dan membuat tujuan  pendidikan semakin jelas seperti yang dikemukakan Edward L.  Thorndike. Dengan demikian maka psikologi pendidikan berarti pendekatan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan keberadaan peserta didik sebagai pribadi unik dan dengan segala potensi alamiah yang mendasarinya.






















2
DASAR-DASAR PSIKOLOGI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN

Kompetensi dasar
Mengevaluasi landasan Psikologi Pendidikan Agama Kristen
Indikator
1.      Menjabarkan pengertian dan ruang lingkup Pendidikan Agama Kristen
2.      Mengidentifikasi pengertian peserta didik dalam kajian Psikologi Pendidikan Agama Kristen
3.      Mengidentifikasi pengertian pendidik dalam kajian Psikologi Pendidikan Agama Kristen
4.      Mengidentifikasi proses pembelajaran dalam kajian Psikologi Pendidikan Agama Kristen


Pendahuluan
Pendidikan Agama Kristen dalam pendidikan formal, sepertinya dijadikan mata pelajaran "second class" atau mata pelajaran yang tidak dibanggakan. Apa sesungguhnya yang terjadi sehingga pandangan seperti itu muncul? Bahkan bukan dari pihak-pihak lain, tetapi justru dari dalam kekristenan sendiri, baik dari pihak guru juga dari pihak peserta didik. Ada berbagai alasan yang diungkapkan. Pernah suatu hari dalam sebuah diklat Guru PAK yang saya bawakan, saya berdiskusi dengan beberapa guru PAK sebagai peserta diklat. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak bangga menjadi guru PAK, justru mereka merasa minder karena dianggap sebagai guru yang tidak berkualitas. Di samping itu, peserta didik juga menganggap bahwa pelajaran agama Kristen tidak penting, sehingga kebanyakan dari mereka bolos pada jam-jam pelajaran agama tersebut. Sekali lagi, mengapa fenomena tersebut terjadi? Apakah memang pembelajaran PAK yang tidak menarik atau faktor pendukung pembelajaran yang tidak memadai? Tentu hal ini membutuhkan penelitian lebih lanjut, namun pesan mendasar yang dapat ditangkap dari fenomena tersebut sesungguhnya dapat dijadikan indikator yang menunjukkan bahwa pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen harus dimaksimalkan lagi dalam segala segi, yakni: SDM nya, fasilitas pembelajaran, kurikulum dan metodenya.
Sebuah analisis yang dikerjakan oleh Thomas H. Groome dan Horace Busnell setidaknya memberi jawaban memadai bagi jpagumulan tersebut. Groome membangun analisanya pada tiga dimensi waktu untuk menanggapi pelaksanaan pendidikan Kristen Dalam tulisannya diungkapkan bahwa, Pendidikan Agama Kristen tidak bisa dipisahkan dari memahami masa lampau, masa kini dan masa depan. Adapun hal itu tidak bisa dipahami sebagai masa yang terpisah secara linear karena jika waktu kemudian disalahpahami sebagai tiga masa terpisah, maka kegiatan pendidikan cenderung menekankan yang satu dan mengabaikan dua yang lainnya sehingga merusak seluruh kegiatan. Maka dari itu Pendidikan Agama Kristen dalam pelaksanaannya pada masa kini seharusnya sendjRtiasa dibangun dari warisan masa laiu, dan melihat kepada kebutuhan masa depart dari pengaplikasian masa lalu dan masa kini. Mengutip pandangan John Dewey, Groome mencatatkan bahwa apa yang telah dikerjakan dalam keluarga manusia masa lalu sebagai "modal peradaban yang dikumpulkan", sebagian tugas pendidikan adalah menjamin "modal yang dikumpulkan" tersebut dilestarikan dan disediakan bagi orang-orang pada masa kini. Bagi Groome, John Dewey menempatkan pendidikan masa lalu tersebut sebagai upaya untuk "mengumpulkan warisan" bagi peradaban-peradaban selanjutnya. Sehubungan dengan keberadaan pendidikan pada masa kini, mengutip Piaget, Groome menilai tentang dimensi waktu masa kini sebagai upaya "menemukan kembali" dalam arti berusaha menemukan kebenarannya bagi diri kita sendiri, sama halnya seperti apa yang ditegaskan Piaget bahwa segala kognisi harus didasarkan pada proses yang aktif dan reflektif di masa kini. Maka dari itu, masa kini tidak hanya memakai dan menemukan kembali apa yang telah diketahui, masa kini menambah warisan pengetahuan. Sehubungan dengan mengungkap keprihatinan terhadap pendidikan di masa depan, secara khusus dalam kaitannya dengan realisasi Pendidikan Agama Kristen di masa depan, Groome melihat bahwa apa yang sebelumnya telah disampaikan oleh Plato dalam The Republic, diungkapkannya kembali bahwa, visinya tentang naradidik adalah apa yang paling menentukan cara seseorang mendidik.
Dalam perkembangan selanjutnya, John Dewey memainkan peranannya yang sehakikat dengan apa yang Plato visikan. John Dewey melihat bahwa pendidik menurut sifat pekerjaannya diwajibkan untuk melihat pekerjaan masa kininya dari sudut apa yang telah berhasil atau gagal dicapai demi masa depan yang tujuan-tujuannya bersangkut paut dengan tujuan-tujuan masa kini. Hal yang sama juga ditegaskan oleh Dwayne Huebner, bahwa hai yang paling penting dari nilai kehidupan seseorang dan komunitas adalah pendidikan. Groome juga mengkaji bahwa Freire pun menegaskan hal yang pada hakikatnya menempatkan pendidikan pada nilai keutuhan peserta didik. Pendidikan yang bersifat utopis yang dimaksudkan Freire sesungguhnya berawal dari keprihatinannya terhadap pelaksanaan pendidikan yang terlampau menempatkan naradidik sebagai obyek pendidikan dan bukannya diperlakukan sebagai subyek yang utuh, yang memiliki segenap potensi untuk menjadikan dirinya apapun deng pengalaman hidupnya. Maka dari itu seperti apa yang telah diungkapkan Freire, "pendidikan diharapkan tidak mengizinkan orang-orang menerima apa yang telah ada (juga dalam pemahaman ini, memberikan apa yang telah ada) tetapi menuntun mereka membangun dunia yang lebih baik sebagai gantinya".
Merujuk kepada pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen, dapat dikatakan bahwa dalam usaha-usaha awalnya, Pendidikan Agama Kristen dibangun dalam konsep pola asuh Kristen, yang sebnjutnya dikategorikan sebagai gerakan Pendidikan Agama Kristen dengan memaksimalkan proses sosialisasi. Sosialosasi secara sederhana dapat dikatakan sebagai proses pendidikan yang beriaku wajar dan dengan sendirinya; dimana orang tua, persekutuan, masyarakat meneruskan pengetahuan, kebiasaan, niai-nilai kepada anak-anak, anggota persekutuan dan anggota masyarakat".
Sebagai pengagas model sosialisasi, Horace Bushnell dalam Christian Nurture nya menempatkan Pendidikan Agama Kristen sebagai asuhan Kristen, dimana orang tua atau keluarga sebagai suatu kesatuan organik, sehingga iman Kristen yang dipercayai dan diamalkan oleh orang tua Kristen mengalir ke dalam kehidupan anak-anaknya. Hal ini berarti menonjolkan tanggung jawab orang tua sebagai orang-orang yang seharusnya hidup sesuai dengan iman Kristen. Bushnell menegaskan bahwa di dalam keluargalah anak-anak menerima PAK pertama kalinya, sehingga selanjutnya ia bertumbuh melalui proses induksi alamiah (sosialisasi) dalam iman Kristen. Mengkritisi Horace Bushnell, Thomas H. Groome melihat bahwa apa yang diupayakan oleh Bushnell tidak seharusnya berhenti pada nilai sosialisasi semata, tetapi perlu dibangun pola yang ada hal yang prinsip yang penulis lihat dalam karya Groome, bahwa kekuatan pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen, seharusnya melihat pada dimensi waktu yang telah dan sedang membangun serta mewariskan nilai-nilai pendidikan yang tidak boleh stagnan pada dimensi masa kini, tetapi lebih berupa pengaplikasian segenap kognisi yang ada dalam membangun pendidik dan naradidik bukan bagi sekelompok orang atau kepentingan "penguasa" tetapi berorientasi pada kebutuhan-kebutuhan masyarakat.

A.     Pengertian dan Ruang Lingkup PAK: Sebuah Reimplementasi Pendekatan Psikologi dalam Pembelajaran PAK.
Menyoal tentang pengertian PAK dan ruang lingkupnya, pertama-tama perlu melihat pengertian PAK dari beberapa tokoh yang telah berkecimpung dalam dunia pendidikan Kristen di Wyckoff dan C.L.J. Sherrill yang disarikan oleh Robert R. Boehlke mengenai struktur pendidikan Agama Kristen dalam implementasi pendidikan psikologi sentrisnya.
E.G. Homrighausen dan I.H. Enklar membangun sebuah kesepahaman melihat pendidikan agama yang berkembang di dunia Barat, tidak tepat dalam penggunaan istilahnya, khususnya di Indonesia sebagai konteks yang pluralistik ini. Kesepahaman yang dibangun E.G. Homrighausen dan I.H. Enklar tentang pendidikan Kristen atau Pendidikan Agama Kristen tersebut cenderung melihat pada sisi kejelasan dan ketegasan nilai pendidikan agama yang dibangun, yaitu Pendidikan Agama Kristen, bukan agama yang lain.
Dalam ulasannya, B.S Sidjabat menanggapi arah pendidikan Kristen, mengatakan bahwa "Pendidikan Kristen merupakan upaya ilahi dan manusiawi dilakukan secara bersahaja dan berkesinambungan untuk memberikan pengetahuan, nilai-nilai, sikap-sikap, keterampilan, sensitivitas, tingkah laku yang konsisten dengan iman Kristen.

B.     Peserta Oidik dalam PAK, Siapa dan Bagaimana Mereka?
Tidak maksimalnya pembelajaran PAK seringkali bukan saja dipengaruhi oleh SDM, dan lingkungan belajar yang tidak memadai, justru akan lebih parah akibatnya apabila pendidik bahkan peserta didik itu sendiri tidak memahami dirinya, jati dirinya'dan kehadiran dirinya, baik sebagai pendidik maupun sebagai peserta didik dalam PAK. Apa yang dimaksud dengan tidak memahami diri/keberadaan diri tersebut erat kaitannya dengan hakikat dasariahnya, sehingga PAK seringkali dijadikan hanya sebuah pengalaman mengajar dan pengalaman belajar semata, bukan pada tujuannya semula yaitu pemulihan dan pemberdayaan manusia menuju pada karakter hidup yang memuliakan Tuhan.
Paul W.Cates, seorang filsuf pendidikan Kristen, mendefinisikan anak didik sebagai 1) individu yang memiliki tingkah laku, keinginan, pengetahuan, dan keterampilan, dimana individu tersebut ciptaan yang diciptakan menurut Gambar Rupa Allah (Kej. 1:27), namun sekaligus juga orang berdosa (Rm. 3:23), dan mahluk yang memiliki mental, jiwa, fisik, roh, serta social interests. 2) mencari kebenaran (Rm. 1:14); memiliki hati yang menghargai, memiliki keinginan untuk melakukan apa yang benar (Flp. 1:8-10), orang yang belajar melalui meneliti sesuatu, melakukan apa yang ia pelajari (Yon. 4:15), serta individu yang memberikan responnya terhadap kebenaran (Yoh. 4:26). Leon Marsh mengatakan bahwa, The most poignant characteristic of the religious nature of the learner is that he was made in the image of God. This concept of the imago Dei suggests that the learner is like God in several ways.

C.      Pendidlk dalam PAK, Apa yang terjadi?
Ada apa dengan guru PAK sekarang ini? Kebanyakan dari mereka merasa jenuh dengan proses pendidikan yang mereka kerjakan.60 Alasan mendasarnya adalah mereka menemukan din mereka sedang stagnan dan mengerjakan sesuatu yang monoton dari hari ke sehari dalam tanggung jawab pendidikan mereka.
Sungguh suatu alasan yang seharusnya tidak pernah terjadi dalam panggilan hidup sebagai pendidik. Howard Hendricks, dalam bukunya Teaching to Change Lives menegaskan bahwa, "the effective teacher always teach from the overflow of a full life. The law of the teacher, simply stated, is this: If you stop growing today you menegaskan bahwa seorang guru harus tahu apa yang ia akan ajarkan, pengetahuan yang sempurna harus berdampak pula pada pengajaran yang sempurna.62 Jika kembali kepertanyaan awal, ada apa dengan guru PAK? Reaksi awal yang harus dibangun adalah pertama-tama tentu memberatkan kepada posisi guru yang bersangkutan. Guru bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kompetensi dirinya, keahlian dirinya, serta segala hal menyangkut kesiapan dirinya baik mental maupun spiritualnya. Maka dari itu, seorang guru harus bijak membangun kapasitas hidupnya, seperti apa yang Howard Hendricks pikirkan dalam perjalananan kehidupan seorang guru yaitu, "think of this way, as lona as you live, you learn; and as long as you learn, you live.

Tanggapan
Tidak dapat dipungkiri bahwa teologi tetap membangun hubungan dengan ilmu-ilmu lain, terutama dalam metode dan bahkan dengan ilmu-ilmu tertentu teologi pun membangun hubungan berlindan dan dengan konten. Misalnya, teologi dan filsafat, meski memiliki konten yang berbeda, namun tidak dapat memungkiri sumbangsih filsafat bagi teologi. Dalam hal ini, Pendidikan Agama Kristen mau tidak mau harus membangun hubungan dengan ilmu pendidikan murni juga ilmu psikologi. Hal ini semaga-mata pada metode dan bahkan pada bagian-bagian tertentu pun berkaitan dengan konten psikologi, misalnya psikologi perkembangan.
























3

DASAR-DASAR PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
 DALAM PSIKOLOGI PAK


Kompetensi Dasar
Merumumuskan dasar-dasar psikologi perkembangan bagi psikologi Pendidikan Agama Kristen
Indikator
1.      Mendeskripsikan prinsip-prinsip pertumbuhan dan perkembangan
2.      Mamadankan teori-teori perkembangan peserta didik dan perspektif Kristen terhadap teori-teori perkembangan
3.      Mengklasifikasikan konsep-konsep perkembangan Kristiani tentang murid
4.      Mengidentifikasi tahapan-tahapan perkembangan dan pengajaran dalam Pendidikan Agama Kristen

Pendahuluan
Apakah kepentingan psikologi perkembangan dalam PAK? Pertanyaan ini b/sa jadi menjadi otokritik bagi pelaksana PAK. juga bisa jadi semacam penolakan, karena seringkali muncul ketegangan yang ada sehubungan dengan tidak ada kesarnaan hakikat antara teologi yang menjadi dasar kajian PAK dengan psikologi sebagai disiplin ilmu sosial yang bersifat operational. Menanggapi hal itu, penting juga mengacu pada tanggapan Thomas H. Groome rerhadap pendidikan agama Ronald Goldman dan yang lainnya- sehubungan dengan ketegangan tersebut, Groome melihat bahwa para pendidik harus berhati-hati ketika mereka mulai mengambil pemahaman-pemahaman dari penelitian psikologi perkembangan. Apa yang dikemukakan sebagai hal yang deskriptif tidak dapat diterima sebagai hal yang preskriptif, sama seperti apa "yang ada sebenarnya, jangan pernah diterima secara otomatis sebagai apa "yang seharusnya". Pendidikan agama juga sekarang jangan menjadi "kurir" para ahli psikologi perkembangan. Kita harus membawa pokok-pokok persoalan. pertanyaan-pertanyaan, pemahaman-pemahaman dan bahasa kita sendiri dan juga sedikit keraguan "data" yang ditawarkan. Jika tidak, kegiatan kita akan menjadi model ilmu pengetahuan sosial yang bersifat operational dan usaha-usaha kita direduksi menjadi teknik-teknik. Groome menambahkan juga bahwa "di lain pihak, mengabaikan pertemuan-pertemuan para ahli psikologi perkembangan adalah suatu kecerobohan".
Iris V. Cully menambahkan bahwa, "hasil-hasil penelitian psikologis yang baru, menyarankan kemungkinan adanya dorongan-dorongan batin bagi pelaku moral.74 Melihat pada pentingnya psikologi perkembangan, maka hal yang mendasar yang terjadi dalam PAK sehubungan dengan tidak dapat dipisahkannya nilai-nilai edukasi dan nilai-nilai sosialisasi dalam PAK menempatkan psikologi perkembangan dibutuhkan dalam membangun pendekatan-pendekatan pengajaran dan pembelajaran.
Groome melihat bahwa apa yang baru dalam masa kita sekarang ini adalah jumlah penelitian yang meningkat yang dilakukan atas pelbagai aspek perkembangan manusia. Di antara para ahii psikologi perkembangan yang terkenal, mereka yang memiliki daya tarik khusus bagi para pendidik adalah Piaget (perkembangan kognitif), Kohlberg (perkembangan moral), Fowler (perkembangan iman), Loevinger (perkembangan ego), dan Selman (perkembangan empati). Penelitian mereka bersifat terus menerus dabn penemuan-penemuan mereka harus dilihat sebagai indikator-indikator yang membantu bukan sebagai deskripsi-deskripsi yang lengkap dan final. Groome merancang beberapa permasalahan dalam pendidikan yang sarat dengan upaya melibatkan pendekatan psikologis

A.     Prinsip-prinsip Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik
Selama ini perhatian para pelaku pendidikan Kristen tertuju Kepada tugas mendidiK orang-orang Ke dalam man Kristen. Hal itu berarti, pendidikan Kristen bertanggung jawab untuk memaksimalkan segala hal menyangkut pendidikan teriebih lagi menyangkut sasaran atau subyek pendidikan yaitu peserta didik. Mengedepankan peserta didik sebagai sasaran pendidikan itu berarti PAK bertanggung jawab terhadap pembangunan kepribadian, karakter seorang pribadi peserta didik maupun kelompok mengarah kepada perubahan di dalam Kristus. Dengan demikian para pendidik pun harus dapat memaksimalkan berbagai pendekatan dalam memaksimalkan pengajarannya. Atmadja Hadinoto menegaskan bahwa psikologi perkembangan ini dapat membuka kemungkinan-kemungkinan pemahaman baru tentang proses per-kembangan manusia dan di samping itu juga harus bersikap kritis terhadap prasangka-prasangka mereka. Secara sederhana pertumbuhan dan perkembangan dalam diri peserta didik dapat dimengerti sebagai "proses yang menunjuk kepada perubahan yang progresif dan kreatif, dalam organisme bukan saja perubahan dalam segi fisik, melainkan juga dalam segi fungsi, mtsalnya kekuatan dan koordinasi. Yang dimaksud kreatif berarti wSvidu tersebut memilih aspek-aspek lingkungan dan terhadap ingkungan itu ia harus memberi respons.
Prinsip-prinsip perkembangan menurut Hamali:
Pertama.. Perkembangan sebagai fungsi interaksi antara organisme dengan lingkungan. Suatu pandangan menyatakan bahwa faktor pembawaan merupakan faktor yang paling penting dalam perkembangan. Pandangan lain menyatakan sebaliknya, bahwa lingkunganlah yang merupakan faktor yang paling menentukan. Namun, para ahli yang digolongkan ke dalam kelompok interactionist mereka percaya bahwa pembawaan menyediakan potensi potensi yang berinteraksi dengan lingkungan yang dinamis. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya menyediakan lingkungan yang cukup memberikan stimulus pada anak-anak.
Kedua, Perkembangan beriangsung lebih cepat pada tahun-tahun permulaan. Pada usia 9 bulan dalam kandungan. berat bayi ada yang mencapai 4 kg, suatu penambahan berat sebesar 500 kali berat tatkala terjadinya pembuahan sel telur oleh sperma. Perkembangan yang paling cepat terjadi pada tahun-tahun permulaan, tetapi perlu disadari bahwa per-kembangan itu beriangsung seumur hidup. Sekalipun mungkin pola-pola kepribadian itu terbentuk pada usia sebelum sekolah, manifestasi sifat-sifat kepribadian itu sendiri mengalami perubahan selama manu-sia hidup.
Ketiga, pengaruh kematangan terhadap hasil-hasil latihan. Latihan dan pengajaran dapat  berlangsung secara produktif jika pertumbuhan dalam diri individu kelak terjadi secara memadai, artinya otot, saraf, dan otak harus berkembang dulu sampai tingkatan tertentu. Kematangan atau kesiapan (readiness) sangat penting untuk mendapat hasil latihan atau peng-ajaran.
Keempat. Pola-pola tingkah laku berkembang secara berurutan. Perkembang-an adalah proses yang beriangsung secara teratur, selangkah demi selangkah. Setiap keterampilan, sifat, atau pengetahuan harus mempunyai dasar-dasar yang mendahuluinya.
Kelima, Laju perkembangan bersifat individualSetiap individu memiliki laju perkembangan sendiri-sendiri. Beberapa anak mencapai kematangan lebih awal daripada anak-anak lainnya.

Teori-teori Perkembangan Peserta Didik dan Perspektif Kristiani terhadap Teori-teori Perkembangan

Teori-Teori Perkembangan
Admodjo Hadinoto mencatatkan bahwa, di antara para ahli yang terkenal penyelidikannya adalah: J.Piaget (perkembangan kognitif); LKohlberg (perkembangan moral), E.Erikson (perkembangan ego); J.Fowler (perkembangan iman kepercayaan).Ada beberapa pertanyaan awal yang dimunculkan oleh Hadinoto yang juga perlu menjadi pengkajian bersama, yaitu: Mengapa pemikiran beberapa tokoh Psikologi Perkembangan di Barat yang sangat mempengaruhi pemikiran pendidikan selama paruhan kedua abad kedua- puluh ini di Amerika dan Eropa dipilih untuk diteiaah; padahal belum tentu hasil-hasil penyelidikan mereka cocok untuk diterapkan dalam situasi di Indonesia? Alasan yang dapat dikemukakan di sini adalah, bahwa hasil penyelidikan mereka ini penting untuk memahami perubahan yang dialami manusia, bentukbentuk perubahan itu dikenali dalam tiap tahap perkembangan umur manusia, dan khususnya hal-hal apa yang dapat dimanfaatkan bagi proses belajar iman Kristen (PAK).
Di samping itu, tokoh-tokoh seperti J.Piaget, L. Kohlberg sendiri mengklaim penemuan teori mereka berlaku secara universal (hal ini terlepas dari apakah kita setuju atau tidak dengan pandangannya). Berarti tidak hanya berlaku di negeri Barat saja dari mana ia berasal, tetapi juga untuk berbagai macam kebudayaan, kelompok etnis, dan untuk segala tingkat sosial dan ekonomi di seluruh dunia (studi perban-dingan antar kultural).


Teori Psikoanalis

Menurut Freud kepribadian itu terdiri atas tiga sistem atau aspek, yaitu Das Es yaitu aspek biologis {the id), Das Ich yaitu aspek Psikologis {the ego) dan Ueber Ich yaitu aspek sosiologis {the superego). Ditegaskan bahwa, kendatipun ketiga aspek tersebut, masing-masing memiliki fungsi, prinsip kerja, sifat dan dinamika sendiri-sendiri, namun ketiganya berhubungan sangat rapat, sehingga tidak mungkin memisah-misahkan pengaruhnya terhadap pembentukan tingkahlaku manusia.
Das Es atau aspek bilogis ini adalah aspek yang orisinil. ari aspek inilah kedua aspek lainnya bermula. Das es berfungsi dengan berpegang pada prisip kenikmatan, yaitu mencari keenakan dan menghindarkan diri dari ketidakenakan. Das Ich atau aspek psikologis dari kepribadian ini timbul dari kebutuhan organism untuk dapat berhubungan dengan dunia luar secara realisitis. Berfungsinya Das Ich berpegang pada prinsip "realitas". Tujuannya masih dalam garis kepentingan organism, yaitu mendapatkan keenakan dan menghidari ketidakenakan, tetapi dalam berttuk dan cara yang sesuai dengan kondisi-kondisi dunia nil, sesuai dengan kenyataan. Das Ueber Ich, aspek sosiologis dari kepribadian. Das Ueber Ich lebih merupakan hal yang ideal daripada hal yang riil, lebih merupakan kesempurnaan daripada kesenangan. Fungsinya yang terutama ialah menentukan apakah sesuatu susila atau tidak susila, pantas atau tidak pantas, benar atau salah, dengan cara ini, manusia bertindak dalam cara yang sesuai dengan moral masyarakat.

Beberapa pemikiran mendasar dari para teoritisi psikoanalitis, dapat dicatatkan di bawah ini.

Para teoritis psikoanalitis melihat perkembangan pada dasarnya tidak disadari yaitu diluar kesadaran dan sangat diwarnai oleh emosi. Para teoritis psikoanalitis yakin bahwa perilaku semata-mata adalah suatu karakteristik permukaan dan untuk benar-benar memahami perkembangan kita harus menganalisis makna simbolis perilaku dan kerja pikiran yang paling dalam. Para teoritisi psikoanalitis juga menekankan bahwa pengalaman-pengalaman sebelumnya dengan orang tua secara ekstensif membentuk perkembangan kita. Karakteristik ini digarisbawahi dalam teori psikoanalitis utama yaitu Kepribadian, karena ego membuat keputusan-keputusan rasional. Id dan ego tidak memiliki moralitas. Id dan ego tidak memperhitungkan apakah sesuatu benar atau salah. Superego adalah struktur kepribadian Freud yang merupakan badan moral kepribadian.

Teori Perkembangan Kognitif
Diungkapkan oleh Piaget adanya 5 tahapan perkembangan yaitu tahap sensorik-motorik (usia 0-2 tahun)r tahap prekonsep (usia 2-4 tahun), tahap intuisi (usia 4-7 tahun), tahap operasional konkrit (usia 7-11 tahun) dan tahap operasional formal (usia 11-15 tahun).
Tahap I, Tahap sensorimotor yang berlangsung dari kelahiran hingga usia 2 tahun, merupakan tahap pertama Piaget. Pada tahap ini, bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia dengan mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman sensor (seperti melihat dan mendengar) dengan tindakan-tindakan motorik fisik oleh karena itulah istilahnya sensorimotor. Pada permulaan tahap ini, bayi yang baru lahir memiliki sedik'rt lebih banyak daripada pola-pola reflex. Pada akhir tahap, anak berusia 2 tahun memiliki pola-pola sensorimotor yang kompleks dan mulai beroperasi dengan simbol-simbol primitif.
Tahap II, Tahap praoperasional yang berlangsung kira-kira dari usia 2 hingga 7 tahun, merupakan tahap kedua Piaget. Pada tahap ini, anak-anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Pemikiran simbolis melampui hubungan sederhana antara
Tahap III, Tahap operasional konkret yang bertangsung kira-kira dan usia 7-11 tahun, merupakan tahap ketiga Piaget. Pada tahap ini, :*rti-anak dapat melaksanakan.operasi, dan penalaran logis menggantikan pemikiran intuitif sejauh pemioran capat diterapkan ke contoh-contoh yang spesifik atau konkret. Misalnya, pemikir isional konkret tidak dapat membayangkan langkah-langkah diperlukan untuk menyelesaikan suatu persamaan aljabar, yang terlalu abstrak untuk dipikirkan pada tahap perkembangan ini.
Tahap IV, Tahap operasional formal yang tampak dan usia 11 hingga 15 tahun, merupakan tahap keempat dan terakhir Piaget. Pada tahap m, individu melampaui dunia nyata, pengataman-pengalaman tongkret dan berpikir secara abstrak dan tebih logis. Sebagai bagian dan pemikiran yang lebih abstrak, anak-anak remaja mengembangkan gambaran keadaan yang tak ideal. Mereka dapat berpikir tentang seperti apakah orang tua yang ideal dan membandingkan orang tua mereka dengan standar ideal ini.

Teori Perkembangan Moral
Lawrence Kohlberg menunjukkan adanya 6 tahap perkembangan moral secara berurutan dan berlaku universal berdasar penelitiannya. Keenam tahap tersebut akan diuraikan di bawah ini:

Level 1: Pre-Conventional Morality
Tingkat pertama: ketaatan dan hukuman. Artinya, suatu tindakan menurut aturan dinilai baik, jika tidak menimbulkan kesakitan atau ketakutan.

Tingkat kedua: orientasi naif-egoistis. Perbuatan yang menurut aturan adalah baik jika memuaskan hati (hedonistis). Unsur-unsur seperti: kejujuran, saling-memberi dan membalas memang sudah muncui, tetapi ditafsirkan secara fisik, dan pragmatis. Sebagai contoh: "Kamu telah mencubit aku, sekarang aku ganti mencubitmu!". Jadi di sini belum muncui aspek loyalitas, rasa terima-kasih atau rasa keadilan. Level 2: Conventional Morality
Tingkat ketiga berkisar pada orientasi: "Anak laki yang baik dan anak perempuan manis". Di sini yang dinamakan perbuatan balk adalah yang menyenangkan dan dapat diterima oleh orang lain. Oleh karena itu pada tingkat ini banyak terjadi konformitas (membebek) terhadap stereotip-stereotip dalam masyarakat. Pada tahap ini mulai muncui kesanggupan menilai perbuatan dari 'motivasinya'. Seperti nyata dari ucapan: "sebenarnya ia bermaksud baik, tetapi..."; yang dipakai secara berlebih-lebihan.
Tingkat keempat: menegakkan hukum dan disiplin. Orientasi orang pada tingkat moral ini adalah: siapa pemegang kekuasaan, dialah yang harus dihormati. la gemar memperhatikan kewajiban-kewajiban yang harus dilalukan seseorang, dan bagaimana harus mempertahankan tata-kehidupan sosial untuk kepentingan ketertiban dan keamanan sendiri.

Level 3: Post-Conventional Morality
Tingkat kelima: kontrak sosial. Umumnya orang mau menekankan segi hukum dan kemanfaatannya bagi kehidupan bersama. Perbuatan dinilai baik, berdasarkan norma-norma yang telah diuji kebenarannya oleh masyarakat dan diterima bersama. Di tingkat ini mulai muncui kesadaran bahwa nilai-nilai dan pandangan individu adalah relatif; oleh karena itu diperlukan 'aturan-permainan' untuk mencapai konsensus bersama. Mereka juga sudah dapat membedakan bahwa, di luar apa yang sudah ditetapkan bersama secara demokratis dan dalam bentuk Undang-undang, masih ada kebebasan berpendapat sendiri.

Teori PerKembangan Psikososial Erik H.Erikson
Berbeda dengan Piaget dan Kohlberg yang bertolak dari peftembangan kognitif manusia, Erikson dalam hal ini bertttik tolak dari prinsip biologis, dengan lebih mendasarkannya pada perkembangan ekologis (Schaap, '84:209). Dengan perkembangan ekologis dimaksudkan perkembangan relasi manusia dengan dunia sekelilingnya, yakni dengan orang-orang yang dekat dengan dirinya. Rupanya di kalangan para ahli psikhologi perkembangan anak, ada rasa kurang puas terhadap pendekatan kognitif secara berat sebelah dari teori Piaget yang menekankan segi kompetensi logis dari manusia belaka (Light, '68:1). Pendekatan Erikson yang memakai psikhoanalisis, yakni dengan menyelidiki hakikat manusia, mendapat simpati orang banyak. Karena dengan pendekatan ini, manusia tidak dijadikan sekadar obyek penyelidikan ilmu pengetahuan, tetapi manusia sendiri menjadi subyeknya. Hal ini nyata dari kecondongan di Eropa Barat, yang mau mencari keseimbangan dalam penyelidikan aspek lain di luar aspek kognitif (Brusselmans [ed],'81:4).
Dalam teorinya, Erikson berbeda pendapat dengan Freud, la menggeser peranan ego, karena itu disebut psikhologi ego. Di samping itu, Erikson menekankan peranan dan otonomi ego dalam pembentukan pribadi, tanpa bermaksud menghilangkan peranan dorongan primitif masa kanak-kanak (libido seksualis) dan peranan sosial, serta historis (Siagiaan, 4 Jan, '84). la membagi perkembangan psikologi manusia dalam delapan tingkat. Lima tingkat yang pertama merupakan reformulasi dan perluasan dari lima tingkat perkembangan Freud. Dapat ditambahkan bahwa tiga tingkat terakhirnya jatuh pada tali manusia dewasa. Seperti telah disebutkan di atas, Erikson membagi


4
POLA-POLA PENDIDIKAN YANG BERKEMBANG 
SERTA PENGARUHNA TERHADAP PENGEMBANGAN PAK


Kompetensi
Menganalisis tokoh pendidik yang berorientasi pad ailmu psikologi dan pengaruhnya terhadap pengembangan Pendidikan Agama Kristen
Indikator
1.      Mengembangkan teori John Dewey, George Albert Coe, Harrison S. Elliot dan pengaruhnya terhadap pengembangan Psikologi Pendidikan Agama Kristen
2.      Mempolakan teori-teori pendidikan menuju kematangan PAK yang mengembangkan PAK pada aras teologis/ psikologi sentris



Pendahuluan
Tokoh-tokoh seperli John Dewey (1859-1952) dengan pendidikan demokratis, progresif dan filsafat rekonstruksismenya. sehingga berakhir pada pemosisian diri pada bidang sains yang berdampak pada ketidakterlibatannya dalam urusan gereja atau agamanya. Berbeda dengan Albert Coe (1862-1951) ketika Dewey diperhadapkan dengan gaya berpikir secara ilmiah dengan kesimpulan mengagumkan. ia menolak iman dan persekutuan gereja. Coe diperhadapkan pada perkara yang sama, dan ia menarik kesimpulan yang lain, iman Krislen masih tetap berlaku. asal saja iman itu diucapkan ulang sesuai dengan gaya berpikir ilmiah dan modern tersebut. 
Kehadiran Harrison S. Elliott (1882-1951), juga sangat penting dalam membangun arah pendidikan Kristen yang lebih modem-manusiawi, namun tetap dalam kerangka teologis melihat arah pengembangan PPAK tersebut. "Ada empat hal yang menjadi keyakinan teologisnya yang menentukan sifat pandangannya terhadap Pendidikan Kristen. yaitu: Allah, Penyataan, Tabiat Manusia dan Dosa.128 Selanjutnya dalam pembahasan lainnya dalam bagian ini, tentu akan melihat secara dekat kajian beberapa tokoh Pendidikan Kristen yang secara khusus melihat arah Pendidikan Kristen dalam pergumulan teologis/psikologis sentrisnya.

John Dewey (1859-1952) Kajian Pemikiran Pendidikan Berbasis Kajian Ilmiah
John Dewey, seorang tokoh besar dalam sejarah intelektual Amerika, dianggap sebagai salah satu dari beberapa orang Amerika abad kedua puluh yang "... Bisa diakui dalam skala dunia sebagai juru bicara bagi manusia" (Dykhuizen, 1973, hal xv ). Lingkup kerja Dewey meliputi filsafat, psikologi, pendidikan, politik, dan pemikiran sosial. Pada acara di perayaan ulang tahun ke-90 itu, pada tahun 1949, Dewey menggambarkan tujuan hidup sebagai upaya untuk mendapatkan "yang jelas dan membangun gagasan-gagasan berbeda tentang apa masalah yang sesungguhnya mendasari kesulitan dan kejahatan yang kita alami di dalam praktek kehidupan ini. John Dewey senantiasa menyelidiki apa permasalahan yang terjadi di masyarakat dan berusaha untuk mencari jalan keluarnya.'29 John Dewey dikenal oleh karena konsep pemikirannya tentang pragmatisme, relativisme, dan active learner.




Pemikiran John Dewey
Konsep tentang filsafat
            Dewey berpihak pada filsafat sebagai pemahaman berefleksi atas masalah yang rumit untuk memperoleh jawaban yang turut memecahkannya dalam gelanggang pibadi dan sosial. Dewey pun kemudian tertarik dengan filsafat pragmatisme seperti yang diajarkan oleh Charles Sanders. Konsep pragmatisme menekankan pada “makna segala sesuatu yang berhubungan dengan  apa yang dapat dilakukan.

Konsep tentang Agama
Bagi Dewey, agama adalah pengalaman emosi yang dialami seseorang dan berhubungan dengan rasa nyaman serta bebas dari kekhawatiran yang tidak mungkin terucapkan dalam kata-kata secara lisan. Bagi  Deway, kerajaan Allah adalah kenyataan adikodrati yang berfaedah sebagai simbol tentang hubungan yang tertinggi yang pengembangannya dilaksanakan melalui pendidikan. Untuk itu guru adalah orang yang memiliki peran paling penting karena dianggap sebagai nabi yang palin gdipercaya untuk mendatangkan kerajaan Allah yang sebenarnya.

Konsep tentang Pendidikan
Menurut Deway pendidikan adalah upaya menolong manusia agar dapat berefleksi terhadap masalah yang timbul dalam masyarakat dan upaya memperlengkapi mereka agar menghasilkan perubahan yang nyata dalam kehidupan mereka. Rumusan Dewey tentang pendidikan adalah pembentukan kembali atau pengorganisasian ulang pengalaman yang menambah maknanya dan yang menambah kemampuan si pelajar dalam memberi arah terhadap pengaaman yang selanjutnya.

Sumbangsih John Dewey dalam Dunia Pendidikan
Berdasarkan pengalamannya, Dewey mengembangkan ide-ide penting dari dirinya sehubungan dengan pendidikan, ditegaskannya bahwa:
Pertama, anak-anak adalah pembelajar aktif (active learner),
Kedua, pendidikan seharusnya difokuskan kepada seluruh aspek kepribadian anak dan memprkuat kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana ia berada sehingga ia mampu memecahkan masalah yang dialaminya secara reflektif,
Ketiga, semua anak-anak, dari semua lapisan sosial ekonomi serta semua etnis memiliki hak untuk mendapat pendidikan yang layak.

Kritik terhadap konsep pemikiran John Dewey

Konsep yang mengabaikan Allah
Menurut Dewey, keselamatan di dunia ini akan semakin tercapai melalui pendidikan dan tidak lagi melalui campur tangan ilahi dari dunia yang ada di seberang sana. Ini menunjukkan bahwa Dewey tidak mengakui keberadaan Allah dan baginya keselamtan adalah hasil dari upaya manusia melalui pendidikan.

Konsep yang mengabaikan Firman Allah
Bagi Dewey, kebenaran berasal dari upaya manusia yang relatif, bersifat tidak tetap dan selalu berubah-ubah. Tidak ada norma dan kaidah yang tetap. Benar atau tidaknya sesuatu yang dianggap benar bergantung pada bermanfaat atau tidaknya bagi kehidupan manusia dan ukuran untuk segala sesuatu yang dilakukan atau terjadi bergantung pada prakteknya.
Konsep yang mengabaikan Kehidupan Kekal






























































HUBUNGAN TEOLOGI DENGAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN  DAN RELEVANSINYA



kompetensi Dasar dan Indikator
Kompetensi Dasar 5:
Mendiskripsikan hubungan psikologi Pendidikan Agama Kristen
i Indikator:
a. Mendiskripsikan hubungan teologp I
1              merencanakan pendekateTH
I               keterikatan psikotog'i dengan teotoqj tiatam ftnriAs
Kristen


Menyoal hubungan psikologi dengan Kekristenan,ada hal pnsip yang pada tahap awal yang dapat dicermati dari pemikiran Thomas H. Groome. Ia berpendapat bahwa, "Teologi Kristen, dalam arti yang pafng teknis dan tepat, adalah bidang studi yang mengaitikulasitan pengertian makna Allah dalam kehidupan kita befdasarkan penyeidkan yang sistematis dan teliti baik terhadap tradsi man Kristen maupun pengalaman yang hidup dari orang-orang.'
Teologi berurusan dengan bagaimana membangun manusia mengenal jati dirinya dan bertidak dalam jati dirinya yang benar dalam perspektif Firman Tuhan, dan psikologi rnemainkan peranan dalam mengupayakan pendekatan yang tepat bagi setiap keberadaan dan kebutuhan manusia menyangkut reafta indhnduaflasnya yang unik.
Nilai-Nilai Hubungan Psikologi dengan Teologi; Pendekatan yang Tepat
Pazmino melihat bahwa, penggabungan pandangan Pendidikan Kristen dengan psikologi merupakan hal yang penting karena beberapa alasan. Pertama, pendidikan, sebape umumnya diyakini dan dipraktekan di abad ke-20, sangat berg; kepada psikologi dengan berbagai teorinya, temuan-temuan penelitiannya, dan prakteknya. Kedua, terdapat keberagaman didalam psikologi yang meliputi behavioral, psikoanalisis, kognitif perkembangan, gestalt, humanistik, sosial, psikologi transformational. Ketiga, orang Kristen diperhadapkan dengan kebutuhan untuk berpikir kristiani tentang psikologi secara urrv dan/atau mengembangkan suatu psikologi Kristen untuk rnernt pemikiran dan praktek pendidikan seseorang. mencari kemungkinan-kemungkinai dapat dibangun hubungan dengan psikologi dengan memaki perspektif teologi dan pandangan iman Kriten tentang otorite tunggalnya. Pazmino menilai pendekatan keempat ini sebac pendekatan yang dipakai Augustin, yaitu penggabungan yan mengarah kepada pencarian kebenaran di semua area pecarian, termasuk psikologi dalam hubungan dengan kebenaran-kebenaran di dalam kebenaran Allah.

Berdasarkan penyajian di atas, dalam kajian teologi dan psikologi, khususnya dalam hal praktika, dapat memperhatikan disiplin masing-masing dengan pemahaman — pemahaman tentang person dalam hal ini para pelaku perilaku baik itu pendidik, bahkan peserta didik yang sasaran pend ic tersebut.
Berdasarkan pendekatan Brock, ada beberapa perillaku dicatatkannya sebagai upaya melihat persentuhan apa yan| dibangun dari hubungan teologi dan psikologi tersebut.

Pendidikan Lebih diutamakan daripada Teologi
Dalam pendekatan ini, teologi dianggap hanya sampingan, yaitu sebagai "isi" yang dicolokkan ke dalam proses pendidikan. Manusia belajar dengan cara tertentu, tidak peduli apa yang mereka pelajari. Jadi tugas adalah dengan  menggunakan praktek-praktek pendidikan terbaik untuk mengajarkan berbagai dimensi teologi dan praktik keagamaan. Dalam pendidikan Kristen, pendekatan ilmu sosial seperti yang dianjurkan oleh James Michael Lee (dan Iain-Iain) adalah perwakilan dari pendekatan inj. Dalam studi tentang filsafat agama, karya William James, Varieties of Religious Experience di mana ia mengkuantifikasi pengalaman religius (dalam istilah ilmiah) adalah perwakilan dari pendekatan ini.
"Melakukan Teologi" atau berteologi adalah pendidikan
Kristen dalam arti memungkinkan orang untuk merefleksikan pengalaman mereka saat ini dan perspektif dalam terang iman Kristen dan penyataan. Dengan cara ini, berteologi sama dengan pendidikan Kristen.
Teologi dan Pendidikan adalah disiplin ilmu yang terpisah yang dapat bergerak bersama dan secara kolegial bergerak dalam kemajuan Kerajaan Allah, kedua dapat benar-benar tidak berhubungan (sengaja atau tidak sadar) Seperti yang dipraktekkan di jemaat lokal, ada sedikit koneksi yang disengaja antara teologi (dalam definisi apa pun) dan praktik pendidikan. Tidak ada cukup upaya untuk memastikan bahwa keduanya berhubungan atau konsisten. Setiap siswa harus memahami posisi masing-masing. Selanjutnya, setiap siswa harus mampu mengidentifikasi atau pribadinya posisinya dalam kerangka ini. Akhirnya, setiap siswa larus mampu menilai posisi posisi tersebut yang memberikan andasan bagi pelayanan pendidikan Kristen atau bagi jemaatnya.
Brock mengemukakan empat fondasi dasar-dasar tologi pendidikan Kristen dalam kontek kaum Injili yang dapat dijadikan jerspektif memahami hubungan antara teologi dan psikologi. Brock nenegaskan bahwa di dalam konteks kaum konservatif dan kaum evangelical, keempat posisi teologia tersebut berfungsi sebagai jspek-aspek dasar dari pelayanan pendidikan Kristen.

Hakikat Dasar Manusia Sehubungan Dengan Psikologi Pendidikan
Sifat Manusia yang kompleks
Setidaknya ada tiga jenis karakteristik yang dapat digunakan untuk menggambarkan seseorang sebagaimana yang dideskripsikan oleh Brock, yaitu:
-       Kualitas Universal manusia
-       Group- kualitas spesifik.Keunikan Kualitas IndividuHal-hal yang membuat manusia istimewa.
-       Perspektif tentang Manusia








6

PERBEDAAN-PERBEDAAN INDIVIDU DAN
PENGEMBANGAN KARAKTER KRISTIANI


Kompetensi
Mendiskripsikan Perbedaan-perbedaan Individu serta keterkaitan antara teori-teori kepribadian dan pengembangan karkater di dalam perbedaan-perbedaan individu
Indikator
1.    Mengidentifikasi perbedaan-perbedaan individu
2.    Menjabarkan pengertian Kepribadian, dan temperamen
3.    Membangun kekuatan Karakter Murid-murid Kristen



Perspektif Kristen Memandang Perbedaan tersebut
Perbedaan Jasmani
Mengutip Leon Marsh, Saragi melihat bahwa perbedaan jenis kelamin mempengaruhi pola kemampuan, kepribadian, serta pola perlakuan pendidik atau sekolah kepada anak didik. Melihat perbedaan jenis kelamin yang digolongkan secara fisik, Saragi mendasarkannya pada Kej. 1:26, yang secara implisit mencatat bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan Sarna dengan gambar dan rupa Allah Namun, kesamaan penciptaan tersebut tidak meniadakan keberbedaan dalam kemampuan menurut jenis kelaminnya. Dalam art! ini ada upaya dari penulis untuk memahami bahwa perbedaan jenis kelamin dalam penciptaan sebagai laki-laki dan sebagai perempuan tersebut sama sekali tidak berart. ada indikasi memiliki kemampuan lebih dari yang lain. Tetapi. satu dengan yang lain diberikan perbedaan kemampuan sesuai dengan jenis kelaminnya dengan tujuan untuk saling memperlengkapi satu dengan lainnya.'"
Dalam mengungkap hal yang nyata dari perbedaan jenis kelamin terhadap penentuan sikap dan perilaku, Saragi mendasarkan pemahamannya pada apa yang dikatakan Leon Marsh bahwa perbedaan itu memang terjadi di antara pelajar laki-lak. dan perempuan Surveinya membuktikan bahwa rata-rata anak didik berjenis kelamin perempuan mengalami prestasi yang cukup baik sejak tingkat sekolah dasar namun sedikit demi sedikit mulai berkurang prestasinya hingga di sekolah tingkat atas. Fakta lain, banyak anak didik berjenis kelamin laki-laki tidak suka membaca. Banyak diantara mereka yang kurang berprestasi dan memiliki masalah dalam kedisiplinan, sehingga tidak sedikit dari pelajar laki-laki mengalami drop out dari sekolahnya. Tetap. pelajar laki-laki mulai lerlihat berprestasi di level sekolah tinggi.

Perbedaan spiritual
Dalam memaknai anak didik dalam perbedaan spiriti Saragi memaknainya pada akar kata Latin dari "spiritualitas'l yaitu yang diartikan sebagai hubungan transendentif seseorJ dengan sesuatu yang lain yang lebih besar dari orang terset| spiritualitas sering digunakan sebagai gambaran "membute atau "nafas hidup. Mengutip Roy L. Crane, Saragi, mengatakan bahwa dalam Kekristenan, spiritualitas diawali dengan perinf bahwa orang Kristen harus "lahir baru". Ada suatu paralelisrt "lahir baru" secara spiritual dengan lahir secara fisik. Ini mengasumsikan bahwa setelah kelahiran, maka ada perturrl Dalam PB, ada lima kata dalam bahasa Yunani yang digunaj untuk spiritualitas, yaitu: nepios, paidon, teknon, huios., dan

Perbedaan Kecerdasan (Intelligence)
Kecenderungan sekolah-sekolah masa kini adalah mengadakan tes kecerdasan kepada calon murid-murid. Kebiasaan ini terjadi karena munculnya konsep tes kecerdasan diperlukan untuk mengukur atau mengetahui kapasitas anak didik untuk belajar, juga kemampuannya untuk beradaptasi dengan tugas-tugas yang akan dikerjakan. Kecerdasan memiliki beberapa pengertian, yaitu:
-       Kemampuan untuk berpikir ide-ide abstrak;
-       Kemampuan untuk berpikir secara komprehensif dan kritis;
-       Kekuatan berespon terhadap pandangan atau fakta yang benar;
-       Kapasitas untuk belajar dan mengkonkritkan pemikiran yang abstrak;
-       Kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan berelasi.172 Carles Spearman, seorang psikolog menemukan bahwa manusia memiliki kecerdasan majemuk. la menemukan sedikitnya ada tiga belas kecerdasan majemuk yang dimiliki manusia, namun baru tujuh kecerdasan yang terdeteksi olehnya.
Teori Spearman ini kemudian dikembangkan oleh Daniel Goldman dengan teori kecerdasan majemuk yang mulai dipropagandakan di Indonesia pada awal tahun 2000. Kecerdasan majemuk menurut teori Spearman, meliputi:
1)
Kecerdasan angka;
2)
Daya ingat;
3)
Kecerdasan verbal;
4)
Kecerdasan visualisasi ruang;
5)
Kecerdasan menemukan teori atau mendapatkan kesimpulan

dari kumpulan data-data;
6)
Kecerdasan mempersepsikan sesuatu;
7)
Kecerdasan dalam menyelesaikan masalah.
























7

                         TEORI-TEORI BELAJAR DAN APLIKASINYA DALAM PAK                        


Kompetensi
Menganalisis teori-teori belajar dan aplikasinya dalam Pendidikai Agama Kristen

Indikator
1.      Mendeiskripsikan hakekat belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, tujuan serta motivasi dalam belajar
2.      Menguraikan teori-teori belajar dan aplikasinya dalam pendidikan



Hakekat Belajar
Berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan bany: bergantung kepada proses belajar yang dialami siswa sebagai peserta didik. Adapun proses belajar yang dilakukan seseorang, tergantuny dari pandangannya tentang aktivitas belajar. Ada orang yang berpandangan bahwa belajar adalah suatu kegiatan menghafe. Inktn, sehingga seseorang sudah merasa puas bila mampu msnghafal sejumlah fakta di luar kepala. Ada pula yang berpandangan bahwa belajar adalah suatu aktivitas latihan, iintuk memperoleh kemajuan, seseorang melatih diri dengan borbagai aspek tingkah laku meskipun tidak memiliki pengett mongenai arti, hakekat, dan tujuan ketrampilan tersebut. Lain, sesungguhnya yang dimaksud dengan belajar?
Menurut Slameto (1995), belajar merupakan suatu proses ptft s.iiiu porubahan tingkah laku scbagai hasil intcraksi dengan lingkungan memenuhi kebutuhan hidupnya. Santrock dan Yussen (1994-mendefinisikan belajar sebagai perubahan yang relatif bersifg pnnnanen karena adanya pengalaman. Reber (1988) mendef, bolajar dalam 2 pengertian.
Pertama, belajar sebagai proses memperoleh pengetahuan. Kedua, belajar sebagai perubahan kemampuan langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat.  Adapun ciri-ciri perubahan tingkah laku adalah:
-       Perubahan terjadi secara sadaIni berarti bahwa seseorang yang belajar akan menyacj, l»n|M(liiiya perubahan itu atau sekurang-kurangnya ia merasakj lelah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya misalnya monyndnii pengetahuannya bertambah. Olch karena itu, peruh tingkah laku yang terjadi karena mabuk atau dalam keadaan ti< NMilai lidak tormasuk dalam pengertian belajar.
-       Perubahan bersifat kontinu dan fungsional
-       Perubahan bersifat positif dan aktif
Muhibbin syah (1997) membagi faktor-faktor yang mempengaruhi belajar menjadi 3 macam, yaitu: 1) faktor internal, yang meliputi keadaan jasmani dan rohani siswa, 2) faktor eksternal yang merupakan kondisi lingkungan di sekitar siswa, dan 3) faktor pendekatan belajar yang merupakan jenis upaya belajar siswa ya meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pelajaran.
Ditinjau dari faktor pendekatan belajar, terdapat 3 bentuk dasar pendekatan belajar siswa menurut hasil penelitian Biggs (1991), yaitu :
-       Pendekatan surface (permukaan/bersifat lahiriah). Yaitu kecenderungan belajar siswa karena adanya dorongan dari li (ekstrinsik), misalnya mau belajar karena takut tidak lulus ujiai i sehingga dimarahi orang tua. Oleh karena itu gaya belajarny santai, asal hafal, dan tidak mementingkan pemahaman yang mendalam.
-       Pendekatan deep (mendalam). Yaitu kecenderungan belajar sh. karena adanya dorongan dari dalam (intrinsik), misalnya mau belajar karena memang tertarik pada materi dan merasa membutuhkannya. Oleh karena itu gaya belajarnya serius dan berusaha memahami materi secara mendalam serta memikirkan cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
-       Pendekatan achieving (pencapaian prestasi tinggi). Yaitu kecenderungan belajar siswa karena adanya dorongan untuk mewujudkan ego enhancement yaitu ambisi pribadi yang besai dalam meningkatkan prestasi keakuan dirinya dengan cara meraih prestasi setinggi-tingginya. Gaya belajar siswa ini lebih serius daripada siswa yang menggunakan pendekatan belajar lainnya. Terdapat ketrampilan belajar yang baik dalam arti memiliki kemampuan tinggi dalam mengatur ruang kerja, membagi waktu dan menggunakannya secara efisien, serta memiliki ketrampilan tinggi dalam penelaahan silabus. Di samping itu siswa dengan pendekatan ini juga sangat disiplin, rapi, sistematis, memiliki perencanaan ke depan (plans ahead), dan memiliki dorongan berkompetisi tinggi secara positif.

Tujuan Belajar
Tujuan belajar sangat penting dalam proses pembelajarai bagi guru maupun bagi siswa. Siswa adalah subjekyang terli be dalam proses pembelajaran. Dalam kegiatan tersebut siswa mengalami proses pembelajaran dan merespon dengan perils belajar. Pada umumnya siswa belum menyadari pentingnya. Berkat informasi guru tentang sasaran belajar atau tujuan bela maka siswa mengetahui apa dan arti bahan belajar baginya. Tujuan belajar yang ditetapkan oleh guru biasanya merupakan pandu^ guru untuk memilih, memberi tekanan atau melampaui materi pelajaran dan aktivitas dalam mempersiapkan pelajaran dan pengajaran baik di kelas maupun di lapangan.
Ralph Tyler (dalam de Cecco dkk, 1977) memberikan 3 alasan penting tujuan belajar yang ditetapkan dalam tujuan instruksional, yaitu :
-       Memberikan panduan dalam merencanakan pembelaja apa yang diharapkan akan dicapai murid setelah pembelajaran selesai.
-       Berguna dalam pengukuran prestasi belajar.
-       Siswa mengetahui sebelumnya apa yang harus dipelaji dalam satu unit pelajaran, sehingga selanjutnya ia dap^ mengarahkan perhatian dan usahanya.

Ingatan dan Lupa
Seringkali dalam belajar, apa yang kita pelajari dengan jjustru sukar sekali diingat kembali dan mudah terlupakan. Seb; ttidak sedikit pengalaman dan pelajaran yang kita tekuni sepintj nmudah melekat dalam ingatan.
Lupa atau forgetting ialah hilangnya kemampuan untuk nmenyebut atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumn tttelah kita pelajari. Secara sederhana Gulo (1982) dan Reber ( nmendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau rmengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. Dengs cdemikian, menurut Muhibinsyah (1997) lupa bukanlah peristiw; milangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita.
Motivasi Belajar
Motivasi belajar memegang peran yang sangat per iti dalam pencapaian prestasi belajar. Motivasi menurut Wlodkov (dalam Prasetya dkk 1985) merupakan suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu dan yang arah dan ketahanan pada tingkah laku tersebut. Motivasi be la tinggi tercermin dari ketekunan yang tidak mudah patah untuk menuapai sukses meskipun dihadang oleh berbagai kesulitstn
Biggs dan Telter (dalam Dimyati dkk, 1994) menyata bahwa pada dasarnya siswa memiliki bermacam-macam dalam belajar. Macam-macam motivasi tersebut dapat dibecla menjadi 4 golongan, yaitu : 1) motivasi instrumental, 2) motiA/a sosial, 3) motivasi berprestasi, dan 4) motivasi intrinsik.
Motivasi instrumental berarti bahwa siswa belajar Kat didorong oleh adanya hadiah atau menghindari hukuman. N/lol sosial berarti bahwa siswa belajar untuk penyelenggaraan tug dalam hal ini keterlibatan siswa pada tugas menonjol. Motives berprestasi berarti bahwa siswa belajar untuk meraih prestasi keberhasilan yang telah ditetapkannya. Motivasi intrinsik berai bahwa siswa belajar karena keinginannya sendiri.
Motivasi yang tinggi dapat menggiatkan aktivitas bel; siswa. Motivasi tinggi dapat ditemukan dalam sifat perilaku sis antara lain :
-       Adanya kualitas keterlibatan siswa dalam belajar yang t tinggi.
-       Adanya perasaan dan keterlibatan afektif siswa yang 1 dalam belajar.
-       Adanya upaya siswa untuk senantiasa memelihara atai menjaga agar senantiasa memiliki motivasi belajar ting Dari berbagai teori motivasi yang berkembang.

TeoriBelaiar Behavioristik
Menurut Soekamto (1995) manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian di dafam lingjoingannya, yang akan memberikan pengalaman-pengalaman tertentu kepadanya. Belajar merupakan perubahanh'ngkahlakiiyan9 terjadi berdasarkan paradigma S-R (Stimulus -Respon).
Dengan ka(a lain, belajar merupakan perubahan tingkah laku sebagai akibat adanya jnteraksi antara stimulus dengan respons. Adapun akibat adanya inWaksi antara stimulus dengan respons, siswamempunyai pergalaman baru, yang menyebabkan mereka mengidakan tingkah laku dengan cara yang baru.
Menurut Sumadi Suryabrata (1983), ciri-ciri teori belajar behavoristik, sebagai berikut :
-       Mementingkanpengaruh lingkungan (environmentalistik),
-       Mementingkan bagian-bagian (elementalistik),
-       Mementingkan peranan reaksi,
-       Mengntamakan rnekanisme terbentuknya hasil belajar,
-       Mementingkan set>ab_sebab di waktu yang lalu,
-       Mementingkan peinbentukan kebiasaan, dan

Teori Belajar Humanistik
Menurut teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Dengan kata lain, si pelajar dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya Tujuan utama para pendidik ialah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka. Tokoh penting dalam teori belajar humanistik secara teoritik adalah Arthur Combs, Abraham Maslow, dan Carl Rogers.
Combs dan kawan-kawan menyatakan apabila kita ingin memahami perilaku orang kita harus mencoba memahami dunia persepsi orang tersebut sehingga apabila kita ingin merubah peri'aku seseorang, kita harus berusaha mengubah keyakinan atau pandangan orang itu. Perilaku dalamlah yang membedakan seseorang dari yang lain.
Combs dan kawan-kawan selanjutnya mengatakan bahwa perilaku buruk itu sesungguhnya tak lain hanyalah dari ketidakmauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikari kepuasan baginya. Apabila seorang guru mengeluh bahwa siswa /a tidak mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh guru itu, bisa jadi apabila guru itu memberikari aktivitas yang lain, siswa akan memberikan reaksi yang positif.



































8

MENGOPTIMALKAN KECERDASAN MAJEMUK
DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN


Kompetensi
Mengidentifikasi tipikal kecerdasan Majemuk peserta didik dan implikasinya dalam PAK
Indikator
1.      Mendiskrlpsikan keberadaan peserta didik dalam potensi pengembangan kecerdasan majemuk
2.      Mempolakan implikasi kecerdasan majemuk dalam
3.      Menguraikan prinsip-prinsip dasar Kecerdasan Majemukpembelajaran PAK




Pendahuluan
Pengertian Multiple Intelegence
Nama Howard Gardner tidak terlalu sulit ditemukan dalam jajaran penulis-penulis kontemporer Apalagi bagi orang yang berminat memahami manusia sebagai makhluk yang cerdas. Manusia sebagai struktur utuh yang bisa menampilkan keunikar dirinya. Mengapa eksistensi manusia sebagai makhluk berpikir \ tentunya memiliki keunikan tersendiri dibandmgkan dengan makhluk-makhluk lainnya, selalu menarik untuk dibicarakan? Jawaban atas pertanyaan-perlanyaan seperti ini tentunya tidak saja ditemukar dalam teori Gardner: para filsuf pendidikan serta pakar di bidan; psikologi pasti sudah lebih dulu membedah manusia sebagai makhluk cerdas yang unik.
Namun paling tidak Gardner telah membuat semacam skema Multiple Intellegence yang dapat memberikan landasan kuat unt mengidentifikasi dan mengembangkan spektrum kemampuan yang luas dalam diri setiap anak.  Kemampuan setiap merupakan kecerdasan itu sendiri: artinya: kecerdasan itu tidak hanya sekadar kemampuan mengingat dan menyerap informasi sebanyak-banyaknya, atau kemampuan mengoperasikan denga baik hitungan matematis.

Kecerdasan musikal
Kecerdasan musikal mudah ditemui dalam diri manusia. Ritme denyut jantung, suara pencernaan makanan merupakan tanda bahwa manusia sebenarnya sudah dilatih untuk memiliki kecerdasan musikal sejak dari dalam kandungan ibunya. Orang-orang seperti komposer, konduktor, musisi, penyanyi, stem piano, discjockey, kritikus musik, dan sebagainya, memang memiliki kecerdasan musikal karena mereka jelas kelihatan kepekaan pada pola tindakan, melodi, ritme, dan nada. Kecerdasan musikal ini juga mencakup kemampuan meniru suara atau bunyi-bunyian dengan baik atau bahkan sekadar sebagai penikmat musik. Kecerdasan musikal bisa ditingkatkan dengan latihan, misalnya dengan mendengarkan dan merespon bunyi, menikmati bunyi-bunyian dari suara alam dan mempelajarinya, mengembangkai kemampuan memainkan instrumen musik, dan juga dengan mengembangkan minat untuk berkarir di bidang musik.
Karena setiap peserta didik potensial memiliki kecerdas musikal, maka seyogianya di dalam kegiatan belajar-mengajar Sekolah Minggu aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan sent digiatkan dengan terarah dan programatik, dengan tujuan untu mengembangkan kecerdasan ini di dalam diri nara didik. Mere bernyanyi untuk memuji Tuhan, tetapi juga untuk membuat kecerdasan musikal mereka dirangsang berkembang. Pencipta nyanyian-nyanyian dan pemilihan lagu-lagu untuk proses belaj mengajar di Sekolah Minggu harus dengan lebih serius lagi dilaksanakan. Doa-doa yang dinyanyikan perlu sering dilakukc Anak-anak berkala dilatih bernyanyi bersama, membentuk kel vokal atau koor anak-anak Sekolah Minggu. Untuk meningkat motivasi mereka melatih kecerdasan musikal, dapat diadakan

Kecerdasan logika matematik
Bila kecerdasan lingustik dan musikal bisa didapati dari pengalaman sehari-hari, maka kecerdasan logika matematika' biasanya hanya tampak dalam diri orang-orang tertentu. Walaupun demikian, pola-pola matematika sudah kelihatan sejak dini melalui kemampuan manusia untuk memahami pola-pola pemikiran logis dan abstrak. Kecerdasan logika matematika mencakup kemampuan menghitung, mengukur, dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis, serta menyelesaikan operasi-operasi matematis. Keterampilam mengolah angka dan kemahiran menggunakan ak. I sehat merupakan bagian dari kecerdasan ini. Latihan untuk mengembangkan kecerdasan ini akan melahirkan seorang pembelajar analitis dan rasionalistis (analytic and common sense learner) yang mampu menggunakan rasio untuk menganalisis apa yang dilihat, diraba, dan dirasakan; serta mencoba menyelesaikan masalah.
Anak kecil mulai bisa memiliki kecerdasan logika matematika ketika anak itu mulai memisahkan dirinya dari obyek-obyek yang diamati dan ketika mulai muncul kesadaran dalam dirinya sendiri untuk mengevaluasi obyek-obyek tersebut. Bahkan seorang tnak yang mengalami gangguan perkembangan hampir di semua bidang pembelajaran (idiots savants) bisa juga menunjukkan kecerdasan logika matematika dengan kemampuannya menghitung obyek-obyek di sekitarnya. Kecerdasan logika matematika bisa dirangsang dengan pengenalan terhadap konsep waktu, hubungan sebab akibat.

Kecerdasan spasial
Manusia secara eksistensial hidup dalam ruang dan waktu Kemampuan untuk memahami dirinya dalam ruang dan waktu itu merupakan bagian dari kecerdasan spasial:n Kecerdasan spasial sangat menekankan kemampuan manusia untuk berpikir dalam tiga dimensi. Kecerdasan spasial memungkinkan manusia untuk menerjemahkan apa yang dibayangkannya bahkan memodifikasi imajinasinya itu dalam suatu dimensi. Di sini manusia mampu menggambarkan keberadaan dirinya sebagai bagian dari ruang dengan obyek-obyek yang mengitarinya.
Daya imajinasi dan visualisasi merupakan bagian penting dari kecerdasan spasial. Dalam mengembangkan kecerdasan ini, anak didik diarahkan untuk menjadi pembelajar imajinatif {imaginative learner) yang menekan1 bagaimana naradidik mengungkapkan daya imajinatif seluas-luasnya.
Usaha pengenalan dan penggambaran obyek, serta kemampuan berpikir tentang relasi-relasi ruang dan kemampuan membayangkan suatu gerakan dalam konfigurasi tertentu, merupakan aspek-aspek kecerdasan spasial, yang biasanya dimilik oleh seorang arsitektur, pelaut, pilot, pelatih sepakbola. dan sebagainya Kemampuan meningkatkan kecerdasan spasial bisa dilakukan sedini mungkin dengan belajar mengamati benda-benda dalam berbagai bentuk, menemukan cara-cara untuk keluar dari suatu ruangan hanya dengan membayangkannya, menggambarkan apa yang dibayangkan, menikmati gambar-gambar abstrak, belajar dengan menggunakan diagram, menyusun atau menggabungkan bentuk-bentuk bangun tertentu dan menghasilkan bentuk bangun baru.

Kecerdasan gerak tubuh
Kemampuan manusia untuk menggerakkan alat-alat itu sesuai dengan fungsinya, bahkan mampu mengolah gerakant yang menarik, merupakan kemampuan yang dihasilkan oleh kecerdasan gerak fubuh. Kecerdasan gerak tubuh ini dibutuhkan manusia dalam kegiatan sehari-hari baik untuk berolahraga, bekerja, santai, dan melakukan kegiatan apa saja
Secara khusus mereka yang berprofesi sebagai atlet, penari, pemain Kecerdasan gerak tubuh ini menuntut koordinasi antara otak dan tubuh. Ada beberapa cara untuk melatih kecerdasan gerak tubuh sedini mungkin, yaitu: mengenal lingkungan dan menjelajahinya dengan sentuhan, bermain ketangkasan peran yang memungkinkan menggunakan gerak ubuh sebagai simbol, mendemonstrasikan kemampuan mengolah gurak tubuh dalam bentuk tarian, senam, olahraga, dan lainnya, mengerti dan mengetahui standar hidup yang sehat, serta menciptakan bentuk-bentuk baru bagi suatu gerakan.
Dengan anggapan bahwa semua manusia yang sehat jasmaninya potensial memiliki kecerdasan gerak tubuh, maka tepatlah jika dalam kegiatan belajar-mengajar di Sekolah Minggu aktivitas-aktivitas terarah untuk meningkatkan kecerdasan ini diberi tempat. Guru-guru Sekolah Minggu dapat melatih anak-anak menari secara berkala. Atau. membawa mereka dalam posisi berbaris, keluar dari ruang Sekolah Minggu untuk meninjau dan melihat-lihat lingkungan sekitar lokasi Sekolah Minggu mereka. Atau, anak-anak diminta untuk memerankan Daud yang sedang bertempur melawan Goliat, untuk monunjukkan kepada anak-anak bahwa kalau Tuhan menyertai mereka, mereka akan sanggup untuk melaksanakan pekerjaan-pekor/aan yang sulit dan berat sekalipun, karena itu mereka tidak boleh mengeluh jika guru atau orangtua di rumah meminta bantuan mereka untuk mengerjakan sesuatu. Atau, para peserta didik dibawa beranjangsana ke sebuah pabrik mainan anak anak; dandi sana mereka diminta untuk melihat-lihat dan mencatat benda-benda apa saja yang menarik perhatian mereka masing-masing.

Kecerdasan personal
Manusia sebagai individu memiliki kecerdasan personal.2'' Kecerdasan ini terkait dengan bagaimana manusia memahami perasaansuasana hati, keinginan, serta temperamen orang lain Kecerdasan semacam ini dikategorikan sebagai kecerdasan interpersonal. Manusia sebagai individu, dalam kategori kecerdasan interpersonal, membangun relasi dengan apa yang ada di luar dirinya, yaitu individu-individu lainnya, sehingga kecerdasan semacam ini momungkinkan dirinya untuk memiliki ikatan dan










9

DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR DAN PRILAKU BERMASALAH

Kompetensi
Menganalisis keberhasilan pembelajaran PAK melalui upaya diagnosis kesulitan belajar dan penanganan prilaku bermasalah

Indikator
1.      Mendiskripsikan pengertian kesulitan belajar dan prilaku bermasalah
2.      Mengidentifikasi latar belakang, gejala dan manifestasi kesulitan belajar dan perilaku bermasalah
3.      Mendeskripsikan upaya-upaya penanganan perilaku bermasalah dalam perspektif Iman Kristen.



Pendahuluan

Kedudukan Diagnostik Kesulitan Belajar dalam Belajar
Kesulitan belajar yang dialami individu alau siswa yar. belajar dapat diidentifikasi melalui faktor-faktor yang mempeng proses dan hasil belajar. Faktor-faktor kesulitan belajar yang bd dari dalam diri siswa sangat terkait dengan kondisi-kondisi fisic dan psikologisnya ketika belajar sedangkan faktor-faktor kesuli1 belajar yang berasal dari luar diri siswa banyak yang bersumbeii kurangnya fasilitas, sebagai salah satu faktor penunjang keberhasilan aktivitas atau perbuatan belajar.
Ketidakberhasilan dalam proses belajar mengajar untul mencapai suatu ketuntasan materi tidak dapat dilihat hanya pada satu faktor saja, akan tetapi banyak faktor yang terlibat dan mempengaruhi dalam proses belajar mengajar. Faktor yang  dipersoalkan adalah: siswa yang belajar, jenis kesulitan yang dihadapi dan kegiatan-kegiatan dalam proses belajar. Jadi. Yang terpenting dalam kegiatan proses diagnosis kesulitan belajar adalah menemukan letak kesulitan belajar dan jenis kesulitan belajar-dihadapi siswa agar pengajaran perbaikan (learning corrective: dllakukan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
Proses belajar merupakan hal yang kompleks, di manas sendiri yang menentukan terjadi atau tidak terjadinya aktivitas perbuatan belajar. Dalam kegiatan-kegiatan belajarnya, siswa menghadapi masalah-masaiah secara intern dan ekstem. Jika tidak dapat mengatasi masalahnya. maka siswa tidak dapat be dengan baik. Dimyati dan Mudjionc (1994 : 228-235) mengatai Faktor-faktor intern yang dialami dan dihayati oleh siswa yang , berpengaruh pada proses belajar adalah sebagai berikut:

1.
Sikap terhadap belajar

2.
Motivasi belajar

3.
Konsentrasi belajar

4.
Mengolah bahan belajar

5.
Menyimpan perolehan hasil belajar
6.
Menggali hasil belajar yang tersimpan
7.
Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil kerja
8.
Rasa percaya diri siswa

9
Inteligensi dan keberhasilan belajar

Prosedur dan Teknik Diagnostik Kesulitan Belajar
Salah satu tugas lembaga pendidikan formal adalah menciptakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada setiap si untuk mengembangkan dirinya secara optimal sesuai dengan kemampuan, bakat, minat dan potensi diri yang dimilikinya, dan sesuai pula dengan lingkungan yang ada. Kenyataan masih jug dijumpai, bahwa ada sementara siswa yang memperoleh presta hasil belajarnya jauh di bawah ukuran rata-rata (average) atauyang telah ditetapkan bila dibandingkan dengan teman-temand kelompoknya. Banyak pula dijumpai sejumlah siswa, secara pot diharapkan memperoleh hasil yang tinggi, akan tetapi prestashi biasa-biasa saja, bahkan mungkin lebih rendah dari teman lain ; potensinya lebih kurang dari dirinya.
Untuk mengetahui potensi seorang siswa, dapat dilihat d prestasi sebelumnya dengan melakukan observasi atau akan lei teliti bila digunakan tes psikologis, misalnya lewat tes inteligensi tes bakat. Apabila ada indikasi, bahwa mereka mengalami kesul dalam aktivitas belajarnya, maka mereka membutuhkan bantua secara tepat dan dapat dilakukan.

Konsep Dasar Pengajaran Remedial
Pengajaran Remedial, yaitu suatu proses kegiatan -pelaksanaan program belajarmengajar khusus bersifat individual, diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar, yang bersifat mengoreksi (menyembuhkan) siswa yang mengalami gangguan belajar torsebut sehingga dapat mengikuti proses belaj; mengajar secara klasikal kembali untuk mencapai prestasi optimal
Jika tidak dilakukan program pengajaran remedial, maka siswa tersebut secara kumulatif akan semakin ketinggalan dan tidak dapat mengikuti proses belajar mengajar secara klasikal. Akibatnyp siswa semakin merasa rendah diri karena rendah prestasi. Ada pula siswa yang rendah prestasi tidak dapat mengikuti proses belajar mengajar secara klasikal, terus mencari kompensasi dengan mengganggu suasana kelas, berbuat ramai, melempar teman, mencari perhatian. Karena itu, guru harus memahami pentingnya pengajaran remedial dan sanggup melaksanakannya.

Prosedur Pengajaran Remedial
Dalam pelaksanaannya, pengajaran remedial mengikuti prosedur, sebagai berikut:
Langkah pertama: Penelaahan Kembali Kasus
Guru menelaah kembali secara lebih dalam tentang siswa yang akan diberi bantuan. Dari diagnosis kesulitan belajar yang sudat diperoleh lebih dahulu guru perlu menelaah lebih jauh untuk memperoleh gambaran yang definitif tentang siswa yang dihadapi.

Langkah kedua: Alternatif Tindakan
Setelah memperoleh gambaran lengkap tentang siswa, ba direncanakan alternatif tindakan, sesuai dengan karakterisi kesulitan siswa. Alternatif pilihan tindakan bagi kasus yang mendapatkan kesulitan di dalam belajar, maka langsung sj melakukan remedial, dan jika ditemukan kasus yang memi kesulitan belajar dan memiliki masalah di luar itu, seperti sosial psikologis dan sebagainya, maka sebelum diremedis kasus harus mendapatkan layanan konseling, layanan psik dan atau layanan psikoterapis terlebih dahulu.
Alternatif tindakan ini dapat berupa:
Mengulang bahan yang telah diberikan dan diberi petunj petunjuk:
-       Memahami istilah-istilah kunci/pokok yang ada dalam tugas
-       Memberi tanda bagian-bagian penting yang merupakan kelemahan siswa.
-       Membuat pertanyaan-pertanyaan untuk mengarahkan siswa
-       Memberi dorongan dan semangat belajar.
-       Menyediakan bahan-bahan lain untuk mempermudah.
-       Mendiskusikan kesulitan-kesulitan siswa.
-       Memberi kegiatan lain yang setara dengan kegiatan bek mengajar yang sudah ditempuh. Disini dimaksudkan untuk memperkaya bahan yang telah diberikan kepada siswa, misalnya:
-       Kegiatan apa yang harus dikerjakan siswa.
-       Bahan apa yang dapat menunjang kegiatan yang sedarv dilakukan.
-       Bagian mana yang harus mendapat penekanan.
-       Pertanyaan apa yang diajukan untuk memusatkan pada masalah.
-       Cara yang baik untuk menguasai bahan.
Tindakan yang berupa referal
Jika kesulitan belajar disebabkan oleh faktor sosi pribadi, psikologis yang di luar jangkauan guru, maka guru melakukan alih tangan kepada ahli lain, misalnya: konselor psikolog, terapis, psikiater, sosiolog, dan sebagainya.

Langkah ketiga: Evaluasi Pengajaran Remedial
Pada akhir pengajaran remedial perlu dilakukan evaluasi. seberapa pengajaran remedial tersebut meningkatkan prestasi belajar. Tujuannya untuk mencapai tingkat kebehasilan 75% menguasai bahan. Jika belum berhasil, kemudian dilakukan diagnosis kembali, prognosis dan pengajaran remedial berikutnya demikian seterusnya sampai beberapa siklus hingga tercapai tinykat keberhasilan tersebut.

Pendekatan dan Metode Pengajaran Remedial
Ada tiga pendekatan pengajaran remedial, yaitu:
1.      Pendekatan Pencegahan {preventive approach)
Sebelum proses belajar mengajar dimulai guru seharusnya berusaha dengan berbagai cara untuk mengetahui kondisi awal para siswa, dan memprediksi beberapa siswa yang mungkin akat mengalami kesulitan. Dengan demikian, guru dapat mencegah kesulitan berkembang secara berlarut-larut dengan menggunakan multi media, multi metode, alat peraga yang lengkap dan gaya mengajar yang menarik dalam proses belajar mengajar.
2.       Pendekatan Penyembuhan (curative approach)
Pendekatan ini diberikan terhadap siswa yang nyata-nyata telah mengalami kesulitan dalam mengikuti proses belajar mengajar. Gejalanya, prestasi belajar sangat rendah dibandingkan dengan kriteria, misalnya 75% penguasaan bahan.
3.      Pendekatan Perkembangan (developmental approach)
Guru dituntut senantiasa mengikuti perkembangan siswa secara sistematis. Caranya, guru secara terus menerus memonitor kegiatan siswa selama proses belajar mengajar. Setiap menemui hambatan, segera dipecahkan bersama siswa secara terus menerus.

 Karakteristik Perilaku pelajar Bermasalah
Setiap orang pasti berpotensi bermasalah bahakn menjadi "trouble maker", dalam pendidikan pun terjadi hal yang sama, setiap guru pasti pernah menghadai siswa-siswa yang


9

PENGELOLAAN KELAS  DAN PENGEMBANGAN AKTIVITAS   KELAS

Kompetensi
Mengidentifikasi konsep-konsep pengelolaan k«la«cfari pembangunan aktivitas dalam kelas
Indikator
1.      Mendiskripsikan konsep-konsep pengelolaan kol
2.      Memetakan macam-macam permasfahnn yang dihadapi dalam pengelolaan kelas
3.      Memaksimalkan prinsip-prinsip pengelolaan kolaB melalui kegiatan kelas yang baik


Pendahuluan
Pengelolaan kelas adalah bagian integral dalam proses pembelajaran. Bahkan ada istilah keberhasilan gun dalam mengajar adalah keahliannya dalam mengelola kelas. Pengelolaan kelas adalah jantung dari tubuh pendidikan itu sendiri.
Pandangan ini bersifat otoritatif. Dalam kaitan ini tugas  ialah rnenciptakan dan memelihara ketertiban suasana kelas. Penggunaan disiplin amat diutamakan. Menurut pandangan ini, pengelolaan kelas dan disiplin kelas dipakai sebagai sinonim. S(t lebih khusus, definisi pertama ini dapat berbunyi: pengelolaan kie ialah seperangkat kegiatan guru untuk rnenciptakan dan mernpertahankan ketertiban suasana kelas. Definisi kedua bertolak belakang dengan definisi pertama diatas, yaitu yang didasarkan atas pandangan yang bersifat permisif. Pandangan ini menekankan bahwa tugas guru ialah memaksimaH perwujudan kebebasan siswa. Dalam hal ini guru membantu sisc untuk merasa bebas melakukan hal yang ingin dilakukannya. BeM sebaliknya berarti guru menghambat atau menghalangi perkembangan anak secara alamiah.
Definisi kedua: Pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa. Meskipun kedua pandangan diatas, pandangan otortatif dan permisif, mempunyai sejumlah pengikut, namun keduanya dianggap kurang efektif bahkan kuran bertanggungjawab. Pandangan otoritatif adalah kurang manusian sedangkan pandangan permisif kurang realistik. Definisi ketiga:
Didasarkan pada prinsip-prinsip pengubahan tingkah laku (behavioral modification). Dalam kaitan ini pengelolaan kelas dipandang sebagai proses pengubahan tingkah laku siswa. Perair guru ialah mengembangkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan. Secara singkat, guru memban siswa dalam mempelajari tingkah laku yang tepat melalui penera prinsip-prinsip yang diambil dari teori penguatan (reinforcement) Definisi yang didasarkan pada pandangan ini dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan. Definisi keempat:
Memandang pengelolaan kelas sebagai proses penciptaa iklim sosio-emosional yang positif didalam kelas. Pandangan ini mempunyai anggaran dasar bahwa kegiatan belajar akan berkembang secara maksimal di dalam kelas yang bertklim positi yaitu suasana hubungan interpersonal yang baik antafa guru den siswa dan siswa dengan siswa. Untuk terciptanya suasana seperfl guru memegang peranan kunci. Dengan demikian peranan guru mengembangkan iklim sosio-emosional kelas yang positif melalu pertumbuhan hubungan interpersonal yang sehat.

Bertolak dari anggapan bahwa kelas meufn soaial denqan proses kelompok (group process) sebagaimana kaitan ini dipakailah anggapan dasar bahwa dalam kaitannya dengan suatu kelompok. Dencar kehidupan kelas sebagai kelompok dipandang sungguh amat berarti terhadap kegiatan belajar, meski dianggaap sebagai proses individual. Peranan pendorong berkembangnya dan berprestasinya sistem kelas.

Definisi yang pluralistic
Pengelolaan kelas lalah seperangkat kegi menqembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang kaku dengan mengembangkan hubungan interpersonal yang positif. serta mengembangkan dan mempergunakan kelas yang efektif dan produktrf

Macam-Macam masalah dalam Pengelolaan kelas
Pengellolaan kelas berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan peremcanaan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lajut dalam suatu pembelajaran. Sedangkan pengelolaan kelas selalu berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar, pembinaan, perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norama kelompok yang produktif, didalamnya mencakup pengaturan nornma (peserta didik) dan fasilitas.

Terdapat dua macam masalah pengelolaan kelas, yaitu -
Masalah Individual :
-       Attention getting behaviors (pola perilaku mencat perhatian).
-       Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan)
-       Revemge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkn balas dendam).
-       Helpl&ssness (peragaan ketidakmampuan). Keempat masalah individual tersebut akan tampakdalan berbagai bentiuk tindakan atau perilaku menyimpang, yangtida hanya akan rmerugikan dirinya sendiri tetapi juga dapat merugikan orang lain atau kelompok.

Masalah Kelompok :
-       Kelas Hoirang kohesif, karena alasan jenis kelamin, tingkatian sosial ekonomi, dan sebagainya.
-       Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepalkati sebelumnya.
-       Kelas imereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggottanya.
-       "Membombong" anggota kelas yang melanggar norma kelompok.
-       Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dai tugas yang tengah digarap.
-       Semamgat kerja rendah atau semacam aksi protes kepade guru, karena menganggap tugas yang diberikan kurang bermanfaat.
-        
Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan:
-       Behavior - Modification Approach (Behaviorism Apparoach)
-       Socio-Emotional Climate Approach)



11
TEORI TEORI MOTIVASI DAN IMPLIKASI DALAM
 PAK KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR




Kompetensi
Mendeskripsikan keberadaan motivasi dan implikasinya dalam lajaran PAK
Indikator
-       Memformulasi Teori-teori motivasi
-       Mendiskripslkan Hakikat dan Kepentingan motivasi
-       Mengidentlfikasi Variabel-variabel Motivasi
-       Merangkumkan Aspek-aspek motivasi dari pengajaran Yesus
-       Mempolakan Strategi untuk memulihkan motivasi atau semangat




Pendahuluan
Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi apabila pelaksanaan pendidikan mengabaikan manfaat penting dari motivasi. Pendidikan dan motivasi harus berjalan bersama untuk menghasilkan pembelajaran yang efektif dan berdamak mengubahkan. Kehadiran Peserta didik dalam kelas dibangun oleh berbagai motivasi, dan motivasi itu juga yang mengarahkannya untuk melakukan segala sesuatu dalam pembelajaran.
Selanjutnya akan dibahas beberapa hal mendasar tentang teori motivasi dan penerapannya dalam pendidikan. Pendidikan harus membangun kecerdasan motivasi para peserta didik. Memang tidak akan ada trik atau strategi yang paling ampuh untuk membangun kecerdasan motivasi peserta didik. Guru harus menyadari bahwa kepenuhan hidupnya lah yang sesungguhnya menjadi kunci bagi terciptanya kekuatan dan kemampuan memotivasi para murid. Hendrick mengatakan bahwa. guru yang efektif (termasuk juga dalam hal memotivasi) adalah guru yang memanfaatkan kepenuhan hidupnya sebagai dasar kehidupan pengajarannya, maka dari itu, seorang guru harus bertumbuh dan memaksimalkan diri setiap hah, jika tidak maka benar apa yang Hendrick tegaskan bahwa, "If you stop growing today, you stop teaching tomorrow"."


Teori-Teori Motivasi
Maslow (Robert W Crapps, 1998:161) menyatakan bahwa banyak tulisan mengenai motivasi selalu menghubung-hubungkannya dengan self-actualization (aktualisasi diri) dan peak-experience (pengalaman puncak). Handoko memberikan definisi motivasi yaitu suatu tenaga atau faktor yang terdapat di dalam diri manusia, yang menimbulkan, menggerakan dan mengorganisasikan tingkah lakunya. Motif sendiri adalah suatu alasan atau dorongan yang menyebabkan seseorang orang berbuat sesuatu atau melakukan tindakan atau bersikap tertentu.
Abraham Maslow (1943,1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid. Memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebin kompleks; yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi.
-       Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagai nya)
-       Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
-       Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berat.l.as.
dengan orang lain, diterima, memiliki)
-       Kebutuhan akan penghargaan (berprestas., berkompetensi dan mendapatkan dukungan serta pengakuan)
-       Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi; kebutuhan, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri
mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya).

Clayton Adelberg
Clayton Aldelberg mengetengahkan teori motivasi Berg yang didasarkan pada kebutuhan manusia akan keberadaan (exsistence), JUrf]SWn (relatedness), dan pertumbuhan (growth). Teori ini sedikit kontradiktif dengan teori maslow. Disini Adelberg mngemukakan bahwa Jika kebutuhan yang lebih tinggi tidak atau belum dapat dipenuhi maka manusia akan kembali pada gerakk yang fleksibel dari pemenuhan kebutuhan dari waktu kewaktu dan dari situasi ke situasi.

Kritik Terhadap Teori Motivasi Dalam Pendidikan
Berdasarkan konsep-konsep pokok dan aliran-aliran motivasi yang dipraktekkan dalam pendidikan yang selama ini diterapkan di Indonesia (behavioristik dan kognitif), maka ada beberapa kritik atas konsep-konsep dasar tersebut. ertama- mot'vasi (terutama teori belajar kognitif) dalam pendidikan lebih banyak menekankan pada proses pembelajaran (bagaimana seorang peserta didik menyerap pengetahuan secara maksimal). Walaupun teori ini juga menjadikan lingkungan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi belajar, tetapi memposisikannya sebagai faktor eksternal. Faktor ekonomi telah menjadikan peserta didik (dan orang tua peserta didik) dan pendidik sebagai faktor internal (determinan) dari pendidikan. anpa melihat persoalan ekonomi sebagai salah satu faktor yang kuat mempengaruhi keberhasilan belajar (faktor internal), maka tujuan proses pembelajaran akan sulit sekali tercapai.
Kedua, apakah benar kebutuhan manusia itu bersifat bertingkat atau hierarki? Padahal, dalam kenyataan, berbagai jenis kebutuhan manusia itu diusakan pemuasannya secara simultan, meskipun dengan intensitas berbeda-beda. Sebagian bahkan menunjukkan bahwa kebutuhan manusia bukan berjenjang atau hierarkikal, tetapi merupakan rangkaian. Dalam perspektif yang demikian, dengan menggunakan klasifikasi Maslow tersebut, seorang peserta didik dan pendidik yang terlibat dalam proses belajar jika akan terpaku pada satu motif saja. Sambil memuaskan kebutuhan keamanan dan hargai diri, seorang peserta didik tetap lemuaskan kebutuhan fisiologis, ingin dikasihi orang lain, dan aktualisasi diri. Orang yang sudah menikmati keamanan fisik paling mantap sekalipun, tetap memerlukan makan, pakaian, perumahan, tetap perlu diakui keberadaannya, tetap |igin berkembang dan diakui, apalagi pendidik yang dalam segi otonomi masih belum terpenuhi secara tuntas.






12

Pendahuluan
Seperti diketahui bersama bahwa kemajuan diberbagai bidang saat ini. baik dibidang teknologi juga komunikasi. telah memperhadapkan setiap orang, baik sebagai pribadi maupun kelompok. sebagai institusi maupun organisasi. untuk saling bekerjasama dan berkompetisi menjadi yang terbaik. Menanggapi kenyataan tersebut. maka pendidikan pun harus semakin berbenah diri menghadapi segalam macam tugas dan tanggung jawab untuk membangun mutu pendidikan dan peningkatan kualitas SDM yang ada.
Dikeluarkannya Undang-Undang (UU) No 14/2005 tentang Guru dan Dosen (Bab 1, Pasal 1) Ayat 2, yang menegaskan bahwa tugas seorang guru dan dosen tidak sekadar menyampaikan materi pelajaran. "Tugas utamanya adalah mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi. dan seni melalui pendidikan. penilitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Itu berarti pola-pola dan model-model yang sudah tidak relevan lagi dengan situasi dan kondisi pembelajaran sekarang ini haruslah dibangun kembali dengan berbagai pendekatan yang tepat dan memadai.

Kajian Psikologi Belajar
Hakekat kejiwaan manusia terwujud dengan adanya kekuatan-kekuatan serta aktifitas-aktifitas kejiawaan dalam diri manusia, yang semua itu menghasilkan tingkah laku yang lebih sempurna dari pada makhluk lain. Tanpa disadari manusia secara tidak" langsung telah melakukan suatu perubahan dimana perubahan tersebut terbentuk dari tidak bisa menjadi biasa, tidak tahu menjadi tahu dan seterusnya hingga manusia tersebut menjadi manusia yang lebih baik.   Belajar bukanlah kegiatan yang hanya berlangsung di dalam kelas saja, tetapi juga berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Belajar melibatkan segala keberadaan dalam hidup, sebuah perjumpaan antara teori dan praktek yang menjadi satu di dalam pegalaman hidup, apakah itu pengalaman yang baik, juga dalam galaman yang merugikan. Belajar meliputi pembangunan getahuan atnu keterampilan, juga berhubungan dengan gembangan sikap, tingkah laku, kejiwaan dan perasaan.
Unsur asasi dari belajar selalu melibatkan adanya perubahan am diri orang yang belajar. Perubahan ifu bisa terjadi dengan gaja, bisa loblh baik bisa lebih buruk. Pembelajaran yang kualitas menuntut terjadinya perubahan yang muncul dari galaman mandiri peserta didik dalam interaksi dengan orang lain dengan lilngkungannya.

Konsep dan makna belajar
Menurut C.T Morgan dalam Introduction to Psycology (1961) merumuskan belajar sebagai "suatu perubahan yang relatif menetap  tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman yang lalu". Bisa disimpulkan bahwa belajar sangat erat kaitannya dengan perubahan tingkah laku seseorang. Akan tetapi perubahan yang akan terjadi kamarin adanya proses-proses belajar tidak dapat takan sebagai belajar. Perubahan selain belajar antara lain adanya proses fisiologis (missal: sakit) dan perubahan terjadi adanya proso-proses pematangan (missal : bayi yang mulai at berjalan).



Pandangan Behavioristik
Menurut pandangan ini (seperti J.B. Watson, E.L. Thorndike, B.F. Skinner). Belajar adalah perubahan tingkah laku, dengan seseorang berbuat pada situasi tertentu. Yang dimaksud tingkah disini ialnh tingkah laku yang dapat diamati (berfikir dan emosi menjadi perhatian dalam pandangan ini, karena tidak dapat arti secara langsung. Di antara keyakinan prinsipil yang terdapat pandangan Ini lalah anak lahir tanpa warisan kecerdasan, perasaan, dan warisan abstrak lainnya. Semua kecakapan setelah munuruti melakukan kontak dengan lingkungan.
Perubahan terjadi dalam kemampuan seseorang untuk bertingkah laku dan berbuat dalam situasi tertentu. perubahan dalam tingkah lauku hanyalah suatu refleksi dari perubahan internal dan tak dapat diukur tanpa dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, (aspek-aspek yang tidak dapat diamati seperti pengetahuan. Arti, perasaan, keinginan, kreatiiitas, harapan dan pikiran). Selain dari pada Itu, dewasa ini para neobehaviorist memperluas pandangan behavioristik tentang belajar meliputi aspek-aspek yang tidak dapat diamati secara langsung seperti harapan-harapan, keinginan, keyakinan, dan pikiran. Salah seorang diantaranya ialah albert Bandura (1986) dengan teori kognitif sosial-nya yang menganggap bahwa belajar itu lebih dari sekedar adanya perubahan dalam tingkah laku yang diamati. Belajar adalah pencapaian pengetahuan dan tingkah laku yang dapat diamati yang berdasar pad apengetahuan tersebut. Dalam banyak hal teori ini dapat dianggap sebagai tali penghubung antara aliran behaviorisme dengan teori kognitif.
Menurut Crow & crow dalam buku Educational Psycology (1958) menyatakan "Learnig is acquisition of habits, knowledge, and attitude", belajar adalah memeproleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap. Belajar dalam pandangan mereka menunjuk adanya perubahan yang progresif dari tingkah laku.
Pengertian ini menyangkut pada proses yang mempunyai konotasi urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran atau tujuan. Any change in any object or organism, particularly a behavioral or psychological change. (proses adalah suatu perubahan yang progresif menyangkut tingkah laku atau kejiwaan).
Dari berbagai pendapat dan pandangan mengenai definisi belajar terlepas dari berbagai macam kelemahan-kelemahan dari masing pandangan dapat disimpulkan bahwa belajar suatu porses yang terjadi dalam diri seseorang (pandangan kognitif), tetapi juga menekankan pentingnya perubahan dalam tingkah laku yang dapat diamati sebagai pertanda bahwa belajar telah berlangsung.




















13
KONSEP-KONSEP PEMBELAJARAN DAN APLIKASINYA DALAM PAK


Kompetensi
Menganalisa makna dan kepentingan pembelajaran serta kasinya dalam pendidikan agama Kristen
Indikator
1.      Mengidentifikasi apa yang dimaksud dengan pembelajaran
2.      Menganallsis Prinsip-prinsip dan pendekatan pembelajara
3.      Mendeskripsikan Sebuah Inspirasi Strategi dan Metode Mengajar dalam Perspektif Kristiani dalam PAK
4.      Mahasiswa mampu menjelaskan hakekat pembelajaran, diskripsikan prinsip-prinsip pembelajaran, mendiskripsikan meto-elajaran, dan menjelaskan sistem serta pendekatan pembelajan bermuara pada upaya membangun pendekatan kristiani dala gembangkan pembelajaran yang mengubahkan dalam PAK


Belajar yang dilakukan oleh siswa berkaitan erat dengan usaha pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Peran guru dalam kegiatan pembelajaran sangat penting lebih-lebih bila para peserta didik kurang menyadari arti pentingnya belajar bagi masa depannya. Pembelajaran merupakan salah satu faktor yang sangat strategis dalam menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Guru bertugas untuk menyusun program pembelajaran yang menguntungkan bagi proses belajar peserta didik.
Dewasa ini dalam hal pembelajaran selalu dikaitkan dengan konstruktivisme. Konstruktivisme menjadi kata kunci dalam hampir setiap pembicaraan mengenai pembelajaran. Para ahli konstruktivisme menekankan pentingnya upaya-upaya untuk mengaktifkan struktur kognitif siswa agar dapat membangun makna dari apa yang dipelajari. Battencourt menyatakan bahwa konstruktivisme meruapkan salah satu akiran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi (bentukan) kita sendiri. Pengetahuan merupakan akibat dari suatu konstruksi kqgnitif dari kenyataan yang terjadi melalui serangkaian aktivitas seseorang (peserta didik). Filsafat Konstruktivisme menjadi landasan bagi banyak strategi pembelajaran, terutama yang dikenal dengan nama student-centered learning, belajar yang berorientasi pada peserta didik, yang mengutamakan keaktifan peserta didik dalam mengkonstruksikan pengetahuan berdasarkan interaksinya dalam pengalaman belajar yang diperoleh dan atau difasilitasi pendidik.
Proses belajar yang merupakan proses internal peserta didik adalah sesuatu yang tidak dapat diamati, namun dapat dipahami oleh guru. Perilaku belajar tersebut merupakan respon peserta didik terhadap tindak pembelajaran guru. Kaitan antara belajar dan pembelajaran sangat erat. Guru seyogyanya merancang acara pembelajaran sesuai dengan fase-fase perkembangan siswa. Di samping itu guru selalu berusaha untuk melakukan perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan, artinya bahwa proses pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya harus selalu disesuaikan dengan kemajuan-kemajuan atau perubahan-perubahan yang terjadi. Cara-cara yang diusulkan untuk terus menerus melakukan perbaikan proses pembelajaran untuk guru adalah melalui penelitian tindakan kelas. Belajar dan pembelajaran merupakan dua hal yang terkait erat. Bila teori belajar menerangkan jaimana terjadinya belajar maka teori pembelajaran menerangkan jaimana pembelajaran bisa mempermudah terjadinya belajar .
Lefrancois menyatakan bahwa pembelajaran atau instruction : the arrrangement of the learning situation in such a way that rning is facilitated. Selanjutnya Gagne melihat dua hal penting tang arrangement of the learning situation yaitu yang melibatkan nagement of learning dan yang melibatkan condition of learning. Yang pertama menjawab pertanyaan tentang motivasi, minat evaluasi hasil belajar, dan laporan tentang hasil.
Pertanyaan ini secara relatif tidak tergantung dari isi yang dipelajari u syarat yang diperlukan untuk belajar. Pelaksanaan condition of rning melibatkan prosedur yang erat berkaitan dengan isi (content) Menurut Bettencourt (dalam Paulina Pannen dkk, 2001) bagi costruktivisme, pembelajaran bukanlah kegiatan memindahkan igetahuan dari pendidik kepada peserta didik melainkan suatu jatan yang memungkinkan peserta didik membangun sendiri lgetahuannya. Pembelajaran berarti partisipasi pendidik bersama ssrta didik dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Jadi nbelajaran adalah bentuk belajar sendiri. Tugas pendidik adalah membantu peserta didik agar mampu mengkonstruksi pgetahuannya sesuai dengan situasinya yang konkret.
Pembelajaran pada dasarnya suatu proses kegiatan guru ditujukan kepada siswa dalam menyampaikan pesan berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan serta membimbing dan melatih siswa belajar.
Prinsip-prinsip pembelajaran. Menurut Peaget, ada empat langkah pembelajaran:
Langkah satu: menentukan topik yang dapat dipelajari oleh snak sendiri. Penentuan topik tersebut dibimbing dengan beberapa pertanyaan, seperti berikut:
-       Pokok bahasan manakah yang cocok untuk eksperimentasi ?
-       Topik manakah yang cocok untuk pemecahan masalah dalam situasi kelompok ?
-       Topik manakah yang dapat disajikan pada tingkat manipulasi fisik sebelum secara verbal ?
Langkah dua: memilih atau mengembangkan aktivitas kelas dengan topik tertentu. Hal ini dibimbing dengan pertanyaan seperti :
-       Apakah aktivitas itu memberi kesempatan untuk
melaksanakan metode eksperimen ?.
-       Dapatkah kegiatan itu menimbulkan pertanyaan siswa ?.
-       Dapatkah siswa membandingkan berbagai cara bernalar dalam mengikuti kegiatan di kelas ?
-       Apakah masalah tersebut merupakan masalah yang tidak dapat dipecahkan atas dasar pengisyaratan perseptual?.
-       Apakah aktivitas itu dapat menghasilkan aktivitas fisik dan kognitif?
-       Dapatkah kegiatan siswa itu memperkaya konstruk yang sudah dipelajari
Langkah tiga: mengetahui adanya kesempatan bagi guru untuk mengemukakan pertanyaan yang menunjang proses aemecahan masalah? Bimbingan prtanyaan berupa:
-        pertanyaan lanjut yang memancing berfikir seperti "bagaimana jika"?
-       Memperbandingkan materi apakah yang cocok untuk
menimbulkan pertanyaan spontan?
Langkah empat: menilai pelaksanaan tiap kegiatan, nemperhatikan keberhasilan dan melakukan revisi. Bimbingan Pertanyaan seperti:
-       Segi kegiatan apakah yang mengahsilkan minat dan keterlibatan siswa yang besar?
-       Segi kegiatan manakah yang tak menarik, dan apakah alternatifnya ?
-       Apakah aktivitas itu memberi peluang untuk mengembangkan siasat baru untuk penelitian atau meningkatkan siasat yang sudah dipelajari?
-       Apakah kegiatan itu dapat dijadikan modal pembelajaran lebih lanjut?














































14

YESUS GURU AGUNG: MODEL PEMBELAJARAN EFEKTIF DAN TRANFORMATIF



Kompetensi
Menganaiisis model pendidikan Yesus sebagai guru Agung tentang pendidikan   PAK yang efektif tranformatif
Indikator
1.      Mengidentifikasi pemikiran Robert Pazmino, Lois E. Leba A. Elwood Sanner, J.M. Price; tentang Yesus Guru Agung
2.      Memetakan prinsip-prinsip pengajaran Yesus yang berorientasi membangun pembelajaran yang efektif dan tranformatif



Pendahuluan
Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. tidak harus dimaknai bahwa Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat tersebut begitu jauh dari kehidupan manusia sebagai yang transenden yang tidak berkaitan dengan kehidupan manusia di bumi. Yesus Justru pribadi yang pernah menjalani kehidupan nyata di tengah dunia ini, la membangun kehidupan yang bersumber dari nilai-nilai kehidupanNya. la menjangkau kehidupan dengan model hidupNya. la mengajar, mendidik dan melatih dengan kedekatan hidupNya, la memulihkan kehidupan dengan memberi kehidupanNya. Semua hal tersebut dijalani Yesus dengan visi mengerjakan kehendak Bapa di Sorga. Hal yang sungguh menarik ketika membahas Yesus sebagai Guru Agung adalah penteladanan hidupNya justru sebagai pusat pembelajaran.   Dalam Matius 11:28-29, "Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat Aku akan memberikan kelegaan kepadamu'\ "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan".
Dari ayat tersebut, Matius dalam kapasitasnya sebagai penulis kitab Injil Matius, sebagai murid Yesus, (band. Mat 9:9; 10:3; Mark 2:14, Luk. 5:27) dan dalam kedekatannya dengan Yesus sebagai Guru, menyampaikan beberapa hal yang sangat menarik yang dapat dipelajari dalam kaitan Yesus sebagai Guru Agung tersebut. Hal pertama, Matius hidup bersama pribadi Yesus sebagai Guru Agung yang telah memanggilnya dalam kehidupan baru di dalam Yesus (ayat 28) Prinsip yang terkandung dalam ayat tersebut bersifat general dan dapat dipahami sebagai panggilan agung pemuridan. Pemanggilan Yesus yang memberi pemulihan dan kehidupan yang bermakna tersebut adalah prinsip yang sangat Alkitabiah menyangkut hakikat dasar dari pendidikan Kristen. Karakteristik Pendidikan Kristen sesungguhnya adalah muara dari pengejawantahan perilaku Yesus di dalam kehidupan pendidik dan peserta didik. Memahami tulisan Robert W. Pazmino, dalam bukunya God Our Teacher,  Pazmino, menuliskan bahwa, dalam kehidupan Kristen, Yesus adalah Guru Agung yakni sebagai teladan dan moderdi mana hidup dan pelayanan-Nya berharga. Hal ini menyangkut: isi, konteks, dan manusia. Yesus;adalah oontoh mengajar dalam hal konteks, isi, dan manusia.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar